Jumat, 23 September 2022

Konsep Peserta Didik Dalam Pendidikan Islam

 

 

MAKALAH

Konsep Peserta Didik Dalam Pendidikan Islam

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Pendidikan Islam

Pada Jurusan Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Semester 1

Tahun akademik 2020/2021

 

Disusun oleh:

1.      Moh. Rizqi Lutviansyah (2008108005)

2.      Ismi Siti Humairoh (2008108003)

3.      Wafiq Nur Afifah (2008108002)

 

Dosen Pengampu:

Durtam Sayidi Ag,M.Pd.I

 

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

SYEKH NURJATI CIREBON

2020


KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini yang berjudul “Konsep Peserta Didik Dalam Pendidikan Islam” ini tepat pada waktunya.

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas Bapak Dosen Durtam Sayidi Ag,M.Pd.I pada mata kuliah Ilmu Pendidikan Islam. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawasan dan pengetahuan bagi kami dan teman-teman semua tentang apa itu “Konsep Peserta Didik Dalam Pendidikan Islam”

Kami juga mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membagi sebagian pengetahuannya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.

Kami menyadari bahwa makalah yang kami buat ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan kami nantikan demi kesempurnaan makalah ini.

 

Cirebon, 28 Oktober 2020

 

Kelompok 3

 

 




BAB 1

PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang

Pendidikan merupakan bimbingan dan pertolongan secara sadar yang diberikan oleh pendidik kepada peserta didik sesuai dengan perkembangan jasmaniah dan rohaniah ke arah kedewasaan. Peserta didik di dalam mencari nilai-nilai hidup, harus dapat bimbingan sepenuhnya dari pendidik, karena menurut ajaran Islam, saat anak dilahirkan dalam keadaan lemah dan suci/fitrah sedangkan alam sekitarnya akan memberi corak warna terhadap nilai hidup atas pendidikan agama peserta didik.

Peserta didik adalah orang yang memiliki potensi dasar, yang perlu dikembangkan melalui pendidikan, baik secara fisik maupun psikis, baik pendidikan itu di lingkungan keluarga, sekolah maupun di lingkungan masyarakat dimana anak tersebut berada.

 Namun itu semua tidak terlepas dari keterlibatan pendidik, karena seorang pendidik harus memahami dan memberikan pemahaman tentang dimensi-dimensi yang terdapat di dalam diri peserta didik terhadap peserta didik itu sendiri, kalau seorang pendidik tidak mengetahui dimensi-dimensi tersebut, maka potensi yang dimiliki oleh peserta didik tersebut akan sulit dikembangkan. Oleh karena itu dalam makalah ini akan membahas mengenai masalah peserta didik dalam pendidikan Islam.

 

B.    Rumusan Masalah

1.      Apa yang dimaksud peserta didik?

2.      Apa yang dimaksud dengan peserta didik dalam pendidikan Islam?

3.      Apa kebutuhan-kebutuhan peserta didik dalam pendidikan Islam?

4.      Bagaimana karakteristik peserta didik dalam pendidikan Islam?

5.      Bagaimana sifat-sifat dan kode etik peserta didik dalam pendidikan Islam?

 

C.    Tujuan

Tujuan dari penulisan ini untuk memahami tentang konsep peserta didik dalam pendidikan islam.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.   Pengertian Peserta Didik

Secara etimologi peserta didik adalah anak didik yang mendapat pengajaran ilmu. Secara terminologi peserta didik adalah anak didik atau individu yang mengalami perubahan, perkembangan sehingga masih memerlukan bimbingan dan arahan dalam membentuk kepribadian serta sebagai bagian dari struktural proses pendidikan. Dengan kata lain peserta didik adalah seorang individu yang tengah mengalami fase perkembangan atau pertumbuhan baik dari segi fisik dan mental maupun fikiran.

Sedangkan menurut Abu Ahmadi (1991: 251) juga menjelaskan tentang pengertian peserta didik yaitu “Peserta didik adalah orang yang belum dewasa, yang memerlukan usaha, bantuan, bimbingan orang lain untuk menjadi dewasa, guna dapat melaksanakan tugasnya sebagai makhluk Tuhan, sebagai umat manusia, sebagai warga negara, sebagai anggota masyarakat dan sebagai suatu pribadi atau individu”

Jadi, dapat disimpulkan  bahwa peserta didik adalah seseorang yang mengembangkan potensi dalam dirinya melalui proses pendidikan dan pembelajaran pada jalur, jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Peserta didik bertindak sebagai pelaku pencari, penerima dan penyimpan dari proses pembelajaran, dan untuk mengembangkan potensi tersebut sangat membutuhkan seorang pendidik/guru.

 

B.    Pengertian Peserta Didik dalam Pendidikan Islam

Dengan berpijak pada paradigma “belajar sepanjang masa” maka istilah yang tepat untuk menyebut individu yang menuntut ilmu adalah peserta didik dan bukan anak didik. Peserta didik cakupannya lebih luas, yang tidak hanya melibatkan anak-anak, tetapi juga pada orang-orang dewasa. Sementara istilah anak didik hanya dikhususkan bagi individu yang berusia kanak-kanak. Penyebutan peserta didik ini juga mengisyaratkan bahwa lembaga pendidikan tidak hanya di sekolah (pendidikan formal), tapi juga lembaga pendidikan di masyarakat, seperti Majelis Taklim, TPA, PAUD, dan sebagainya.

Secara etimologi, murid berarti “orang yang menghendaki” sedangkan menurut arti terminologi, murid adalah pencari hakikat di bawah bimbingan dan arahan seorang pembimbing spiritual (mursyid). Penyebutan murid ini juga dipakai untuk menyebut peserta didik pada sekolah tingkat dasar dan menengah, sementara untuk perguruan tinggi lazimnya disebut dengan mahasiswa.

Peserta didik adalah amanat bagi para pendidikannya. Jika ia dibiasakan untuk melakukan kebaikan, niscaya ia akan tumbuh menjadi orang yang baik. Sebaliknya, jika peserta didik dibiasakan melakukan hal-hal yang buruk dan ditelantarkan tanpa pendidikan dan dilepaskan begitu saja dengan bebasnya, niscaya dia akan menjadi seorang yang celaka dan binasa.

Sama halnya dengan teori barat, peserta didik dalam pendidikan Islam adalah individu sedang tumbuh dan berkembang, baik secara fisik, psikologis, sosial, dan religius dalam mengarungi kehidupan di dunia dan di akhirat kelak. Definisi tersebut memberi arti bahwa peserta didik merupakan individu yang belum dewasa, yang karenanya memerlukan orang lain untuk menjadikan dirinya dewasa.

Dengan demikian dalam konsep pendidikan Islam, tugas mengajar, mendidik, dan memberikan tuntunan sama artinya dengan upaya untuk meraih surga. Sebaliknya, menelantarkan hal tersebut berarti sama dengan menjerumuskan diri ke dalam neraka. Jadi, kita tidak boleh melalaikan tugas ini terlebih lagi Nabi bersabda:

 

أَكْرِمُوْااَبْنَاءَكُمْ وَأَحْسِنُوْا اَدَبَهُمْ

“Muliakanlah anak-anakmu dan didiklah mereka dengan baik” (hadits diketengahkan oleh Ibnu Majah 2/1211, tetapi Al-Albani menilainya dha’if)

 

C.   Kebutuhan-kebutuhan Peserta Didik

Kebutuhan peserta didik adalah suatu kebutuhan yang harus didapatkan oleh peserta didik untuk mendapatkan kedewasaan ilmu. Kebutuhan peserta didik tersebut wajib dipenuhi atau diberikan oleh pendidik kepada peserta didiknya. Menurut Ramayulis, ada delapan kebutuhan peserta didik yang harus dipenuhi, yaitu:

 

a.                  Kebutuhan Fisik

Fisik seorang anak didik selalu mengalami pertumbuhan yang cukup pesat. Proses pertumbuhan fisik ini terbagi menjadi tiga tahapan:

1)        Peserta didik pada usia 0-7 tahun, pada masa ini peserta didik masih mengalami masa kanak-kanak

2)        Peserta didik pada usia 7-14 tahun, pada usia ini biasanya peserta didik tengah mengalami masa sekolah yang didukung dengan peralihan pendidikan formal.

3)        Peserta didik pada usia 14-21 tahun, pada masa ini peserta didik mulai mengalami masa pubertas yang akan membawa kepada kedewasaan.

b.        Kebutuhan Sosial

Adalah kebutuhan yang berhubungan langsung dengan masyarakat agar peserta didik dapat berinteraksi dengan masyarakat lingkungan. Begitu juga supaya dapat diterima oleh orang lebih tinggi dari dia seperti orang tuanya, guru-gurunya dan pemimpinnya. Kebutuhan ini perlu agar peserta didik dapat memperoleh kebutuhan, dapat memperoleh posisi dan berprestasi dalam pendidikan.

c.         Kebutuhan Untuk Mendapatkan Status

Dalam proses kebutuhan ini biasanya seorang peserta didik ingin menjadi orang yang dapat dibanggakan atau menjadi seseorang yang benar-benar berguna dan dapat berbaur secara sempurna di dalam sebuah lingkungan masyarakat.

d.        Kebutuhan Mandiri

Kebutuhan mandiri ini pada dasarnya memiliki tujuan utama yaitu untuk menghindarkan sifat pemberontak pada diri peserta didik, serta menghilangkan rasa tidak puas akan kepercayaan dari orang tua atau pendidik karena ketika seorang peserta didik terlalu mendapat kekangan akan sangat menghambat daya kreativitas dan kepercayaan diri untuk berkembang.

e.         Kebutuhan Untuk Berprestasi

Kebutuhan untuk berprestasi erat kaitannya dengan kebutuhan untuk mendapat status mandiri. Artinya, dengan terpenuhinya kebutuhan untuk memiliki status atau penghargaan kebutuhan untuk hidup mandiri dapat membuat peserta didik giat mengejar prestasi. Dengan demikian, kemampuan untuk berprestasi terkadang sangat erat dengan perlakuan yang mereka terima baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, maupun di masyarakat.

 

 

f.         Kebutuhan Ingin Disayangi Dan dicintai

Rasa ingin dicintai dan disayangi merupakan kebutuhan yang essensial, karena dengan terpenuhi ini akan mempengaruhi sikap mental pesrta didik. Banyak anak-anak yang tidak mendapatkan kasih sayang orang tua, guru dan lainnya yang mengalami prestasi dalam hidup. Dalam agama cinta kasih yang paling tinggi diharapkan dari Allah SWT. Itu sebabnya setiap orang berusaha mencari kasih sayang dengan mendekatkan diri kepadanya.

g.        Kebutuhan Untuk Curhat

Kebutuhan untuk curhat terutama remaja yang dimaksudkan untuk dipahami ide-ide dan permasalahan yang dihadapinya. Peserta didik mengharapkan agar apa yang dialami, dirasakan terutama dalam masa pubertas. Sebaliknya jika mereka tidak mendapatkan kesempatan untuk mengkomunikasikan permasalahan-permasalahannya tersebut apalagi dilecehkan, ditolak, atau dimusuhi, dapat membuat mereka kecewa, marah, bahkan mereka merasa tidak aman, sehinga muncul tingkah laku yang bersifat negatif dan perilaku menyimpang.

h.        Kebutuhan Untuk Memiliki Filsafat Hidup

Peserta didik memiliki beberapa dimensi penting yang mempengaruhi akan perkembangan peserta didik. Dimensi ini harus diperhatikan secara baik oleh pendidik dalam rangka mencetak peserta didik yang berakhlak mulia dan dapat disebut insan kamil dimensi fisik (jasmani), akal, keberagamaan, akhlak, rohani (kejiwaan), seni (keindahan), sosial.

Di dalam proses pendidikan seorang peserta didik yang berpotensi adalah objek atau tujuan dari sebuah sistem pendidikan yang secara langsung berperan sebagai subjek atau individu yang perlu mendapat pengakuan dari lingkungan sesuai dengan keberadaan individu itu sendiri. Sehingga dengan pengakuan tersebut seorang peserta didik akan mengenal lingkungan dan mampu berkembang dan membentuk kepribadian sesuai dengan lingkungan yang dipilihnya dan mampu mempertanggungjawabkan perbuatannya pada lingkungan tersebut. Adapun hal-hal yang harus dipahami adalah:

·         Kebutuhannya

·         Dimensi-dimensinya

·         Intelegensinya

·         Kepribadiannya.

 

D.   Karakteristik Peserta Didik

Beberapa hal yang perlu dipahami mengenai karakteristik peserta didik adalah:

1.        Peserta didik bukan miniatur orang dewasa, ia mempunyai dunia sendiri, sehingga metode belajar mengajar tidak boleh dilaksanakan dengan orang dewasa. Orang dewasa tidak patut mengeksploitasi dunia peserta didik, dengan mematuhi segala aturan dan keinginannya, sehingga peserta didik kehilangan dunianya.

2.        Peserta didik memiliki kebutuhan dan menuntut untuk pemenuhan kebutuhan itu semaksimal mungkin. Kebutuhan individu, menurut Abraham Maslow, terdapat lima hierarki kebutuhan yang dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu: (1) kebutuhan-kebutuhan tahap dasar (basic needs) yang meliputi kebutuhan fisik, rasa aman dan terjamin, cinta dan ikut memiliki (sosial), dan harga diri; dan (2) metakebutuhan-metakebutuhan (meta needs), meliputi apa saja yang terkandung dalam aktualisasi diri, seperti keadilan, kebaikan, keindahan, keteraturan, kesatuan, dan lain sebagainya. Sekalipun demikian, masih ada kebutuhan lan yang tidak terjangkau kelima hierarki kebutuhan itu, yaitu kebutuhan akan transendensi kepada Tuhan. Individu yang melakukan ibadah sesungguhnya tidak dapat dijelaskan dengan kelima hierarki kebutuhan tersebut, sebab akhir dari aktivitasnya hanyalah keikhlasan dan ridha dari Allah SWT.

3.        Peserta didik memiliki perbedaan antara individu dengan individu yang lain, baik perbedaan yang disebabkan dari factor endogen (fitrah) maupun eksogen (lingkungan) yang meliputi segi jasmani, intelegensi, sosial, bakat, minat, dan lingkungan yang mempengaruhinya. Pesrta didik dipandang sebagai kesatuan sistem manusia. Sesuai dengan hakikat manusia, peserta didik sebagai makhluk monopluralis, maka pribadi peserta didik walaupun terdiri dari banyak segi merupakan satu kesatuan jiwa raga (cipta, rasa dan karsa).

4.        Peserta didik merupakan subjek dan objek sekaligus dalam pendidikan yang dimungkinkan dapat aktif, kreatif, serta produktif. Setiap peserta didik memiliki aktivitas sendiri (swadaya) dan kreatifitas sendiri (daya cipta), sehingga dalam pendidikan tidak hanya memandang anak sebagai objek pasif yang bisanya hanya menerima, mendengarkan saja.

5.        Peserta didik mengikuti periode-periode perkembangan tertentu dalam mempunyai pola perkembangan serta tempo dan iramanya. Implikasi dalam pendidikan adalah bagaimana proses pendidikan itu dapat disesuaikan dengan pola dan tempo, serta irama perkembangan peserta didik. Kadar kemampuan peserta didik sangat ditentukan oleh usia dan priode perkembangannya, karena usia itu bisa menentukan tingkat pengetahuan, inte lektual, emosi, bakat, minat peserta didik, baik dilihat dari dimensi biologis, psikologis, maupun dedaktis.

 

E.    Sifat-Sifat Dan Kode Etik Peserta Didik

Sifat-sifat dan kode etik peserta didik merupakan kewajiban yang harus dilaksanakannya dalam proses belajar mengajar, baik secara langsung maupun tidak langsung. Al-Ghazali yang dikutip oleh Fathiyah Hasan Sulaiman. Merumuskan sebelas pokok kode etik peserta didik, yaitu:

 

1.      Belajar dengan niat ibadah dalam rangaka taqarrub kepada Allah SWT, sehingga dalam kehidupan sehari-hari peserta didik di tuntut untuk menyucikan jiwanya dari akhlak yang tercela dan mengisi dengan akhlak yang terpuji.

2.      Mengurangi kecendrungan  pada duniawi dibandingkan masalah ukhrawi. Artinya, belajar tak semata mata untuk mendapatkan pekerjaan, tapi juga belajar ingin berjihad melawan kebodohan demi mencapai derajat kemanusiaan yang tinggi, baik di hadapan manusia dan Allah SWT.

3.      Bersikap tawaddlu’ dengan cara meninggalkan kepentingan pribadi untuk kepentingan pendidiknya. Sekalipun ia cerdas tapi ia bijak dalam menggunakan kecerdasan itu pada pendidiknya termasuk juga bijak pada teman-temannya yang IQ-nya lebih rendah.

4.      Menjaga pikiran dan pertentangan yang timbul dari berbagai aliran, sehingga ia fokus dan dapat memperoleh satu kompetensi yang utuh dan mendalam dalam belajar.

5.      Mempelajari ilmu-ilmu yang terpuji baik untuk ukhrawi maupun duniawi serta meninggalkan ilmu-ilmu yang tercela (madzmumah). Ilmu terpuji dapat mendekatkan diri kepada Allah sementara ilmu tercela akan menjauhkan dirinya dan mendatangkan permusuhan antar sesamanya.

6.      Belajar dengan bertahap atau berjenjang dengan memulai pelajaran yang mudah menuju pelajaran yang sukar atau dari ilmu yang fardu ‘ain menuju ilmu yang fardu kifayah

7.      Belajar ilmu sampai tuntas untuk kemudian beralih pada ilmu yang lainnya sehingga peserta didik memiliki spesifikasi ilmu pengtahuan secara mendalam. Dalam konteks ini spesialisasi jurusan diperlukan agar peserta didik memiliki keahlian dan kompetensi khusus.

8.      Mengenal nilai-nilai ilmiah atas ilmu pengetahuan yang dipelajari sehingga mendatangkan objektivitas dalam memandang suatu masalah.

9.      Memprioritaskan ilmu diniyah yang terkait dengan kewajiban sebagai makhluk Allah SWT sebelum memasuki ilmu duniawi.

10.  Mengenal nilai-nilai pragmatis bagi suatu ilmu pengetahuan yaitu ilmu yang bemanfaat dapat membahagiakan, menyejahterakan, serta memberi keselamatan hidup dunia akhirat.

11.  Peserta didik harus tunduk pada nasihat pendidik sebagaimana tunduknya orang sakit terhadap dokternya, mengikuti segala prosedur dan metode mazhab yang diajarkan oleh pendidik-pendidik umumnya, serta diperkenankan bagi peserta didik untuk mengikuti kesenian yang baik.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

A.   Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan sebagaimana telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa peserta didik adalah seorang individu yang tengah mengalami fase perkembangan atau pertumbuhan baik dari segi fisik dan mental maupun fikiran.

Peserta didik dalam pendidikan islam adalah individu sedang tumbuh dan berkembang, baik secara fisik, psikologis, sosial, dan religius dalam mengarungi kehidupan di dunia dan di akhirat kelak.

Kebutuhan peserta didik yang harus dipenuhi yaitu: kebutuhan fisik, kebutuhan sosial, kebutuhan untuk mendapatkan status, kebutuhan mandiri, kebutuhan untuk berprestasi, kebutuhan ingin disayangi dan dicintai, kebutuhan untuk curhat, kebutuhan untuk memiliki filsafat hidup.

Karakteristik peserta didik diantaranya: peserta didik bukan miniatur orang dewasa, ia mempunyai dunia sendiri, sehingga metode belajar mengajar tidak boleh dilaksanakan dengan orang dewasa, peserta didik memiliki kebutuhan dan menuntut untuk pemenuhan kebutuhan itu semaksimal mungkin, peserta didik memiliki perbedaan antara individu dengan individu yang lain, peserta didik merupakan subjek dan objek sekaligus dalam pendidikan yang dimungkinkan dapat aktif, kreatif, serta produktif, peserta didik mengikuti periode-periode perkembangan tertentu dalam mempunyai pola perkembangan serta tempo dan iramanya.

Sifat-sifat dan kode etik peserta didik dalam pendidikan islam yaitu: belajar dengan niat ibadah dalam rangaka taqarrub kepada Allah SWT, mengurangi kecendrungan  pada duniawi dibandingkan masalah ukhrawi, bersikap tawaddlu’ dengan cara meninggalkan kepentingan pribadi untuk kepentingan pendidiknya, menjaga pikiran dan pertentangan yang timbul dari berbagai aliran, mempelajari ilmu-ilmu yang terpuji baik untuk ukhrawi maupun duniawi sertameninggalkan ilmu-ilmu yang tercela (madzmumah), belajar dengan bertahap, belajar ilmu sampai tuntas, mengenal nilai-nilai ilmiah atas ilmu pengetahuan yang dipelajari, memprioritaskan ilmu diniyah, mengenal nilai-nilai pragmatis, peserta didik harus tunduk pada nasihat pendidik.

B.    Saran

    Dalam prosesnya peran dari pendidik, orang tua, teman dan lingkungan sekitar sangat penting untuk perkembangan peserta didik. Karena komponen tersebut memiliki andil yang esar dalam mengetahui potensi, kompetensi dan kemampuan peserta didik. Pendidik harus bisa melihat potensi peserta didik disekolah lewat proses pembelajaran. Orang tua harus dapat berkomunikasi dan berkoordinasi dengan baik dalam memecahkan masalah sert mengembangkan potensi siswa selama ada dilingkungan keluarga. Dan peran teman sekitar harus mampu memberikan pengaruh positif kepada peserta didik agar aspek kognitif, sfekti, dan psikomotorik dapak berkembang dengan baik.


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abdul Mujib, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Kencana, 2008).

Abu Ahmadi & Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan, (Jakarat : PT. Rineka Cipta, 2006).

Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung : PT. Remaja Rosda Karya,  2008).

H.M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991).

Hasan Basri, Filsafat Pendidikan Islam (Bandung: Pustaka Setia, 2009).

Heri Jauhari Muchtar, Fikih Pendidikan  (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008).

Jamal Abdul Rahman, Tahapan Mendidik Anak, Penerjemah : Bahrun Abu Bakar Ihsan Zubaidi, (Bandung : Irsyad Baitus salam, 2008).

M. Nashir Ali, Dasar-Dasar Ilmu Mendidik, (Jakarta: Mutiara, 1982).

Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Kalam Mulia, Jakarta, 2006).

Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam: Pendekatan Historis, Teoritis da Praktis, (Jakarta: Ciputat Pers,2002).

Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2010).

Zuhairini, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995).

https://misbakhudinmunir.wordpress.com/2010/07/14/peserta-didik-dalam-pendidikan-islam

https://www.silabus.web.id/pengertian-peserta-didik/

http://kulpulan-materi.blogspot.com/2012/03/teori-kebutuhan-untuk-berprestasi.html#:~:text=Kebutuhan%20untuk%20berprestasi%2C%20menurut%20McClelland,daripada%20kegiatan%20yang%20dilaksanakan%20sebelumnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar