Kamis, 03 Juni 2021

AKTUALISASI DIRI MASLOW

 

AKTUALISASI DIRI MASLOW

MAKALAH

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah :

Teori Belajar dan Pembelajaran Anak Usia Dini (TBP AUD)

Semester 2

 

Dosen Pengampu :

LUTFATULATIFAH M.Pd

 

                                                                               

 


 

 

 

Disusun oleh :

WAFIQ NUR AFIFAH (2008108002)

LAUHANI TSANIYATUL WAFA (2008108009)

MUCHAMMAD NAJIICH (2008108019)

 


 

PENDIDIKAN ISLAM ANAK USIA DINI

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SYEKH NURJATI CIREBON

TAHUN 2021


KATA PENGANTAR

 

Alhamdulillah puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat, kehendak, kekuatan, pertolongan dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan proposal skripsi ini. Solawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada baginda Rasulullah SAW, keluarga dan para sahabat yang telah memberikan penerangan bagi umat Islam.

Makalah dengan judul Aktualisasi Diri Maslow ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Teori Belajar dan Pembelajaran Anak Usia Dini (TBP AUD) Institut Agama Islam Negeri Syekh Nurjati Cirebon. Penulis menyadari bahwa dalam menyelesaikan makalah ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu penulis menyampaikan terima kasih kepada seluruh rekan satu kelompok yang telah bahu membahu dalam menyusun, menganalisis, serta menyelesaikan makalah ini.

Penulis juga menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dari pembaca sehingga dapat menyempurnakan penulisan makalah ini.

Akhir kata, semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak yang membutuhkan

 

                                                                                                            Cirebon,  1 Maret  2021

 

                                                                                               

                                                                                                            Penulis

 

 

 

DAFTAR ISI

 

 

KATA PENGANTAR.. i

DAFTAR ISI. ii

BAB I PENDAHULUAN.. 1

1.1      Latar Belakang. 1

1.2      Rumusan Masalah. 1

1.3      Tujuan penulisan. 2

BAB II PEMBAHASAN.. 3

1.2      Pengertian Aktualisasi Diri 3

Proses Aktualisasi Diri 4

1.2      Ciri-ciri Aktualisasi Diri 5

2.4      Aspek-aspek Aktualisasi Diri 7

2.5      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Aktualisasi Diri 9

2.6      Cara Mengembangkan Aktualisasi Diri 10

2.7      Contoh Aktualisasi Diri 10

BAB III PENUTUP. 11

3.1      Kesimpulan. 11

3.2      Saran. 11

DAFTAR PUSTAKA.. 12

 

 

 

 


BAB I
PENDAHULUAN

 

 

1.1     Latar Belakang

 

Abraham Maslow adalah seseorang yang ahli dalam hal teori suatu ilmu, atau biasa di sebut teoretikus yang banyak memberi inspirasi dalam teori kepribadian . Beliau lahir pada 1 April 1908 dan meninggal 8 Juni 1970 pada umur 62 tahun. Beliau juga seorang psikolog yang berasal dari Amerika dan menjadi seorang pelopor aliran psikologi humanistik. Beliau terkenal dengan teorinya tentang hierarki kebutuhan manusia (Koeswara, 1991, hal. 10).

Selain dalam bidang psikolog, Beliau juga memberikan kontribusi bagi ilmu pengetahuan manajemen. Bahkan ada yang menyebut bahwa Maslow adalah bapak manajemen modern. Pemikiran-pemikiran Maslow berkaitan dengan kemanusiaan (humanity) yang berhubungan dengan semua aspek kehidupan. Teori-teori Maslow banyak dirujuk sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan (Jarvis, 2015, hal. 3).

Maslow menggunakan piramida sebagai peraga untuk memvisualisasi gagasannya mengenai teori hierarki kebutuhan. Menurut Maslow, manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hierarki, mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri) (Jarvis, 2015, hal. 23).

Dari penjelasan-penjelasan di atas, penulis tertarik untuk membahas lebih mendalam mengenai Teori Aktualisasi diri menurut Abraham Maslow dan dtuangkan ke dalam bentuk suatu karya ilmiah berupa makalah.

1.2       Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat ditentukan rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:

1.      Apakah Pengertian Aktualisasi Diri ?

2.      Bagaimana Teori Aktualisasi diri menurut Maslow ?

3.      Apa saja Faktor-faktor yang Mempengaruhi Aktualisasi Diri menurut Maslow?

1.3       Tujuan penulisan

Adapun Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk :

1.      Mengetahui pengertian Aktualisasi Diri

2.      Memahami Teori Aktualisasi diri Menurut Maslow

3.      Memahami Faktor-faktor yang mempengaruhi Aktualisasi Diri menurut Maslow

 

 


 

BAB II
P
EMBAHASAN

 

AKTUALISASI DIRI MASLOW

 

 

2.1       Pengertian Aktualisasi Diri

Aktualisasi diri merupakan puncak kematangan dan kedewasaan seseorang saat mampu memanfaatkan potensi sekaligus mengetahui batasan dan kekurangan yang dimiliki. Membuat orang lain tertawa merupakan salah satu aktualisasi diri.

Maslow (Jarvis, 2015) mendeskripsikan bahwa aktualisasi diri adalah menemukan pemenuhan pribadi dan mencapai potensi diri. Maslow menggambarkan manusia yang sudah mengaktualisasikan diri sebagai orang yang sudah terpenuhi semua kebutuhannya dan melakukan apapun yang bisa mereka lakukan. Adhani (Kurnia & Shinta, 2015) berpendapat bahwa aktualisasi diri adalah proses menjadi diri sendiri dalam mengerjakan sesuatu yang disukai. Pengerjaan itu dilakukan dengan gairah sesuai dengan potensi yang ada didalam dirinya. Hal ini merupakan kebutuhan pencapaian tertinggi manusia.

Aktualisasi diri adalah keinginan untuk memperoleh kepuasan dengan dirinya sendiri (self fulfilment), untuk menyadari semua potensi dirinya, untuk menjadi apa saja yang dia dapat melakukannya, dan untuk menjadi kreatif dan bebas mencapai puncak prestasi potensinya. Manusia yang dapat mencapai tingkat aktualisasi diri ini menjadi manusia yang utuh, memperoleh kepuasan dari kebutuhan-kebutuhan yang orang lain bahkan tidak menyadari ada kebutuhan semacam itu. Mereka mengekspresikan kebutuhan dasar kemanusiaan secara alami, dan tidak mau ditekan oleh budaya (Alwisol, 2016).

Menurut Maslow (Friedman & Schustack, 2006) aktualisasi diri adalah proses bawaan dimana orang cenderung untuk tumbuh secara spritual dan menyadari potensinya. Hanya sedikit orang yang berhasil mengaktualisasikan diri sepenuhnya, namun banyak yang sedang menuju arah tersebut. Menariknya, pemikiran mengenai aktualisasi diri pertama kali diusulkan oleh Carl Jung. Rogers (Syafitri, 2014) mengatakan bahwa aktualisasi diri adalah kecenderungan untuk melihat ke depan menuju perkembangan kepribadian. Konsep aktualisasi diri merujuk pada kecenderungan organisme untuk tumbuh dari makhluk yang sederhana menjadi suatu yang kompleks, lalu berubah dari ketergantungan menuju kemandirian dari sesuatu yang tetap dan kaku menuju proses perubahan dan kebebasan berekspresi. Sedangkan Aktualisasi diri atau self-actulization dalam psikologi humanistik yaitu kecenderungan untuk berjuang menjadi apapun yang mampu kita raih, motif yang mendorong kita untuk mencapai potensi yang penuh dan mengekspresikan kemampuan kita yang unik.

Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa aktualisasi diri adalah terungkapnya suatu keadaan seseorang yang selama ini terselubung atau tersembunyi yang mana suatu saat pasti terungkap dengan sendirinya sebagai tanda atau ciri khas yang membedakan dirinya dengan orang lain.

Pendapat dari pakar psikologi lainnya menyatakan aktualisasi diri juga bisa dicapai meski seseorang masih memiliki ‘lubang’ pada kebutuhan dasar dan psikologisnya. Mereka berpendapat aktualisasi diri lebih menggambarkan sikap seseorang yang sangat positif terhadap perkembangan dan kesehatan dirinya dibanding mencapai kesempurnaan, sukses, atau kebahagiaan tertentu.

2.2       Proses Aktualisasi Diri

Menurut Koeswara (1991, hal. 54), aktualisasi diri sangat erat hubungannya dengan kesehatan mental yang positif. Maka dari itu, orang yang telah mencapai aktualisasi diri lebih senang mengejar kebahagiaan dan prestasi pribadi ketimbang menuruti nafsu dan tekanan sosial yang mengarah kepadanya.

Meskipun demikian, tidak ada orang yang lahir sudah pada level aktualisasi diri. Kondisi psikologi ini didapat melalui proses yang panjang, bahkan bertahun-tahun, tidak memandang usia, ras, atau gender.

Hal yang membuat seseorang mengalami aktualisasi diri berbeda-beda, misalnya:

Ø  Menjalani hidup seperti anak-anak, yakni menyerap semua hal (baik dan buruk) yang ada di lingkungan

Ø  Tidak bermain aman dan bersemangat mencoba hal-hal baru

Ø  Mendengarkan kata hati dan pikiran sendiri, bukan hanya berdasarkan pada suara mayoritas atau tradisi yang berlaku

Ø  Menghindari kepura-puraan dan selalu jujur pada diri sendiri maupun orang lain

Ø  Bertanggung jawab dan bekerja keras

Ø  Tidak takut membuat keputusan yang tidak populer, sekalipun keputusan tersebut bertentangan dengan mayoritas

Ø  Mengenali kelemahan Anda sendiri.

Mencapai aktualisasi diri bukan berarti Anda telah berubah menjadi manusia yang sempurna. Anda tetap bisa jadi orang humoris atau sembrono, tapi tetap fokus dalam mewujudkan potensi yang Anda miliki.

2.3    Ciri-ciri Aktualisasi Diri

Adapun ciri-ciri aktualisasi diri menurut Maslow (Jarvis, 2015) menggambarkan manusia yang sudah mengaktualisasikan diri sebagai orang yang sudah terpenuhi semua kebutuhannya dan melakukan apapun yang bisa mereka lakukan, yaitu sebagai berikut :

                                                              i.      Memiliki persepsi akurat tentang realitas

                                                            ii.      Menikmati pengalaman baru

                                                          iii.      Memiliki kecendrungan untuk mencapai pengalaman puncak

                                                          iv.      Memiliki standar moral yang jelas

                                                            v.      Memiliki selera humor

                                                          vi.      Merasa bersaudara dengan semua manusia

                                                        vii.      Memiliki hubungan pertemanan yang erat

                                                      viii.      Bersikap demokratis dalam menerima orang lain

                                                          ix.      Membutuhkan privasi

                                                            x.      Bebas dari budaya dan lingkungan

                                                          xi.      Kreatif

                                                        xii.      Spontan

                                                      xiii.      Lebih berpusat pada permasalahan, bukan pada diri sendiri

                                                      xiv.      Mengakui sifat dasar manusia

                                                        xv.      Tidak selalu ingin menyamakan diri dengan orang lain

 

Menurut Asmadi (2008), adapun karakteristik atau ciri yang menunjukkan seseorang mencapai aktualisasi diri diantaranya yaitu:

·         Mampu melihat realitas secara lebih efisien.

Sikap ini akan membuat seseorang untuk mampu mengenali kebohongan, kecurangan, kepalsuan, yang dilakukan orang lain, juga mampu menganalisis secara kritis, logis dan mendalam terhadap segala fenomena alam dan kehidupan.

·         Penerimaan terhadap diri sendiri dan orang lain apa adanya.

Orang yang sudah mengaktualisasikan dirinya akan melihat orang lain seperti melihat dirinya sendiri yang penuh dengan kekurangan dan kelebihan. Sifat tersebut akan menghasilkan sikap toleransi yang tinggi terhadap orang lain juga kesabaran yang tinggi dalam menerima diri sendiri dan orang lain.

·         Spontanitas, kesederhanaan dan kewajaran.

Orang yang mengaktualisasikan dirinya dengan benar ditandai dengan segala tindakan, perilaku dan gagasannya dilakukan secara spontan, wajar, dan tidak dibuat-buat.

·           Terpusat pada persoalan.

Orang yang mengaktualisasikan diri seluruh pikiran, perilaku, dan gagasannya bukan didasarkan untuk kebaikan dirinya saja, tapi juga didasarkan apa kebaikan dan kepentingan yang dibutuhkan umat manusia.

·         Membutuhkan kesendirian.

Pada umumnya orang yang sudah mencapai aktualisasi diri cenderung memisahkan diri. Sikap tersebut didasarkan atas persisnya mengenai sesuatu yang ia anggap benar, tetapi tidak bersifat egois dan tidak bergantung pada pikiran orang lain.

·      Otonomi, kemandirian terhadap kebudayaan dan lingkungan.

Orang yang sudah mencapai aktualisasi diri tidak menggantungkan diri pada lingkungannya ia bisa melakukan apa saja dan di mana saja tanpa dipengaruhi oleh lingkungan baik situasi dan kondisi yang mengelilinginya.

·         Kesegaran dan apresiasi yang berkelanjutan.

Ini merupakan manifestasi dari rasa syukur atas segala potensi yang dimiliki pada orang yang mampu mengaktualisasikan dirinya. Ia akan diselimuti perasaan senang, kagum, dan tidak bosan terhadap segala apa yang ia miliki.

·         Kesadaran sosial.

Orang yang mampu mengaktualisasikan diri, jiwanya diliputi perasaan empati, iba, kasih sayang, dan ingin membantu orang lain. Perasaan tersebut ada meski orang lain berperilaku jahat terhadap dirinya. Dorongan ini akan memunculkan kesadaran sosial dimana ia memiliki rasa untuk bermasyarakat dan menolong orang lain.

·         Hubungan interpersonal.

Orang yang mampu mengaktualisasikan diri memiliki kecenderungan untuk menjalin hubungan yang baik dengan orang lain. Hubungan interpersonal tersebut tidak didasari perasaan cinta, kasih sayang, dan kesabaran meski orang tersebut mungkin tidak cocok dengan perilaku masyarakat di sekelilingnya.

·         Demokratis.

Orang yang mampu mengaktualisasikan diri mempunyai sifat demokratis. Sifat tersebut dimanifestasikan dengan perilaku yang tidak membedakan orang lain berdasarkan golongan, etis, agama, suku, ras, status sosial-ekonomi, partai dan lain sebagainya.

·      Rasa humor yang bermakna dan etis.

Rasa humor orang yang mengaktualisasikan diri berbeda dengan humor yang menghina kebanyakan orang. Ia tidak akan tertawa terhadap humor yang menghina, merendahkan, bahkan menjelekkan orang lain.

·      Kreativitas.

Orang yang mengaktualisasikan diri memiliki sikap kreativitas tanpa tendensi atau pengaruh dari manapun dan siapapun. Kreativitas ini diwujudkan dalam kemampuannya melakukan inovasi yang spontan, asli, tidak dibatasi oleh lingkungan maupun orang lain.

·         Independensi.

Orang yang mengaktualisasi diri mampu mempertahankan pendirian dan keputusan yang ia ambil. Tidak goyah atau terpengaruh berbagai guncangan atau kepentingan.

·         Pengalaman puncak.

Orang yang mengaktualisasikan diri akan memiliki perasaan yang menyatu dengan alam. Ia merasa tidak ada batas atau sekat antara dirinya dengan alam semesta. Artinya, orang yang mampu mengaktualisasikan diri terbebas dari sekat berupa suku, bahasa, agama, ketakutan, keraguan, dan sekat-sekat lainnya.

2.4       Aspek-aspek Aktualisasi Diri

            Menurut Maslow (1987), aspek-aspek aktualisasi diri pada seseorang diantaranya yaitu:  Kreativitas (creativity), yaitu sikap yang diharapkan ada pada orang yang beraktualisasi diri. Sifat kreatif hampir memiliki arti yang sama dengan kesehatan, aktualisasi diri dan sifat manusiawi yang penuh. Sifat-sifat yang dikaitkan dengan kreativitas tersebut diantaranya yaitu fleksibilitas, spontanitas, keberanian, berani membuat kesalahan, keterbukaan dan kerendahan hati.

            Moralitas (morality), yaitu kemampuan manusia melihat hidup lebih jernih, melihat hidup apa adanya bukan menurutkan keinginan. Kemampuan melihat secara lebih efisien, menilai secara lebih tepat manusiawi secara penuh yang ternyata merembes pula ke banyak bidang kehidupan lainnya.

            Penerimaan diri (self acceptance). Banyak kualitas pribadi yang bisa dirasakan di permukaan yang tampak bervariasi dan tidak berhubungan kemudian bisa dipahami sebagai manifestasi atau turunan dari sikap yang lebih mendasar yakni relatif kurangnya rasa bersalah, melumpuhkan rasa malu dan kecemasan dalam kategori berat.

            Spontanitas (Spontaneity). Aktualisasi diri manusia bisa digambarkan sebagai relatif spontan pada perilaku dan jauh lebih spontan daripada di kehidupan batin, pikiran, impuls, dan lain sebagainya. Perilaku tersebut ditandai dengan kesederhanaan, kealamian dengan kurangnya kesemuan tersebut tidak selalu berarti perilaku konsisten yang tidak konvensional.

            Pemecahan masalah (Problem Solving), yaitu individu akan lebih menghargai keberadaan orang lain dalam lingkungannya, Dengan beberapa pengecualian bisa dikatakan bahwa biasanya objek bersangkutan dengan isu-isu dasar dan pertanyaan dari jenis yang telah dipelajari secara filosofis atau etika.

Vallet (Putri, 2007) berpendapat bahwa aspek-aspek proses perkembangan seseorang untuk mewujudkan aktualisasi dirinya, antara lain:

a.       Memahami kebutuhan dasar yang manusiawi, yaitu bagaimana individu memahami kebutuhan-kebutuhannya yang paling mendasar.

b.      Mengungkapkan perasaan yang manusiawi, yaitu ungkapan-ungkapan individu tentang apa yang dirasakannya.

c.       Kesadaran dan kontrol diri, bagaimana individu mampu menyadari dan mengontrol setiap tindakannya sehingga sesuai dengan harapan-harapannya.

d.      Menjadi sadar akan nilai-nilai manusiawi, kemampuan individu untuk bisa menerima nilai-nilai yang berlaku di sekelilingnya, seperti bekerja sama dengan orang lain.

e.       Mengembangkan kedewasaan sosial dan individu, kemampuan individu untuk dapat mempertimbangkan segala tindakan yang dilakukan serta mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya.

2.5         Faktor-faktor yang Mempengaruhi Aktualisasi Diri

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi aktualisasi diri. Orang yang mampu mengaktualisasikan dirinya sangat memahami bahwa ada eksistensi atau hambatan lain tinggal (indwelling) di dalam (internal) atau di luar (eksternal) keberadaannya sendiri yang mengendalikan perilaku dan tindakannya untuk melakukan sesuatu.

·           Faktor Internal :

Faktor internal yaitu bentuk hambatan yang berasal dari dalam diri seseorang seperti:

-          Ketidaktahuan akan potensi diri .

-          Perasaan ragu dan takut mengungkapkan potensi diri, sehingga potensinya tidak dapat terus berkembang.

Potensi diri, yaitu modal yang perlu diketahui, digali dan dimaksimalkan. Sesungguhnya perubahan hanya bisa terjadi jika kita mengetahui potensi yang ada dalam diri kita kemudian mengarahkannya kepada tindakan yang tepat dan teruji.

·           Faktor Eksternal :

Faktor eksternal yaitu hambatan yang berasal dari luar diri seseorang, seperti:

Budaya masyarakat yang tidak mendukung upaya aktualisasi potensi diri seseorang karena perbedaan karakter. Pada kenyataannya lingkungan masyarakat tidak sepenuhnya menunjang upaya aktualisasi diri warganya.

Faktor lingkungan. Lingkungan masyarakat berpengaruh terhadap upaya mewujudkan aktualisasi diri. Aktualisasi diri bisa dilakukan jika lingkungan mengizinkannya. Lingkungan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terhadap pembentukan dan perkembangan perilaku individu, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosio-psikologis.

Pola asuh. Pengaruh keluarga dalam pembentukan aktualisasi diri anak sangat berarti. Banyak faktor dalam keluarga yang ikut berpengaruh dalam proses perkembangan anak. Salah satu faktor dalam keluarga yang berperan penting dalam pengaktualisasian diri yaitu praktik pengasuhan anak.

Anari (Putri, 2007) menyebutkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi aktualisasi diri adalah:

o   Kreativitas, merupakan sikap yang diharapkan ada pada orang yang beraktualisasi diri. Kreativitas bagi mereka adalah suatu sikap. Individu ini asli, inventif dan inovatif meski tidak harus menghasilkan sesuatu.

o   Kepribadian, yaitu organisasi yang dinamis dalam diri individu yang terdiri dari sistem-sistem psiko-fisik yang menentukan cara penyesuaian diri yang unik (khusus) dari individu terhadap lingkungan.

o   Transendensi, yaitu lebih tinggi, unggul, agung, melampaui superlatif arti yang lain tidak tergantung dan tersendiri. Individu yang beraktualisasi diri akan berusaha menjadi yang terbaik.

o   Demokratis, orang yang beraktualisasi diri bertingkah laku lebih dalam daripada toleransi. Meski individu menyadari bahwa perbedaan-perbedaan dengan orang lain, tetapi individu dapat menerima semua orang tanpa memperhatikan tingkat pendidikan dan kelas sosial. Individu siap mendengarkan dan belajar pada siapa saja yang dapat mengajarkan itu pada dirinya.

o   Hubungan sosial, yaitu individu akan lebih menghargai keberadaan orang lain dalam lingkungannya.

Berdasarkan faktor-faktor diatas, dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi aktualisasi diri yaitu kreativitas, kepribadian, transendensi, demokratis, dan hubungan sosial.

2.6      Cara Mengembangkan Aktualisasi Diri

Ada 3 langkah yang bisa dilakukan untuk menumbuhkan aktualisasi diri diantaranya yaitu:

a.       Mengenali potensi dan bakat unik yang ada dalam diri.

b.      Mengasah kemampuan unik setiap hari.

c.       Buat diri menjadi berbeda.

 

2.7      Contoh Aktualisasi Diri

Contoh aktualisasi diri dalam kehidupan sehari-hari diantaranya:

·         Mengikuti olimpiade science nasional untuk meningkatkan potensi kemampuan dalam diri.

·         Pemberian pekerjaan yang lebih menantang dari manager kepada bawahannya.

BAB III
PENUTUP

 

3.1              Kesimpulan

 

Aktualisasi diri adalah kebutuhan yang tertinggi, sebelumnya ada kebutuhan fisiologis, keamanan, cinta dan keberadaan, penghargaan dan baru naik ke aktualisasi diri. Maslow menyusun teori motivasi manusia, dimana variasi kebutuhan manusia dipandang tersusun dalam bentuk hirarki atau berjenjang. Setiap jenjang kebutuhan dapat dipenuhi hanya jenjang sebelumnya telah (relatif) terpuaskan. Jadi kebutuhan fisiologis harus terpuaskan lebih dahulu sebelum muncul   kebutuhan   rasa   aman.   Sesudah   kebutuhan   fisiologis   dan   rasa   aman terpuaskan, baru muncul kebutuhan cinta dan keberadaan, begitu seterusnya sampai kebutuhan akan aktualisasi diri muncul.

 

3.2              Saran

Penelitian diatas belumlah sempurna, hal ini masih sangat terbuka untuk diteliti melalui pendekatan lainnya.

Demikian makalah ini penulis susun, penulis sadar bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan oleh karena itu penulis mengharapkan berbagai macam kritik demi sempurnanya makalah ini.

 

 

 

 

 


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Jarvis, M. (2015). Teori-teori Psikologi . Bandung: Nusa Media.

Koeswara, E. (1991). Teori Kepribadian. Bandung: Eresco.

 

Alwisol. 2016. Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press.

Friedman & Schustack. 2006. Kepribadian Teori Klasik dan Riset Modern. Jakarta: Erlangga.

Jarvis, Matt. 2015. Teori-Teori Psikologi. Bandung: Nusa Media.

Kurnia & Shinta. 2015. “Hubungan antara Kohesivitas Organisasi dengan Aktualisasi Diri pada Anggota Komunitas Pemuda Gereja”. Jurnal. Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta.

Syafitri, Selviana. 2014. “Pengaruh Harga Diri Dan Kepercayaan Diri Dengan Aktualisasi Diri Pada Komunitas Modern Dance Di Samarinda”. Jurnal Psikologi, Volume 2, Nomor 2, 2014 : 290 – 301.

Putri, Tika Desytama. 2007. “Kebutuhan Aktualisasi Diri Pada Remaja Penyandang Tunanetra Yang Bersekolah Di Sekolah Umum Ditinjau Dari Kematangan Emosi Dan Self Disclosure”. Jurnal. Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Hidayat, A. Aziz Alimul. 2009. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia Aplikasi Konsep dan Proses Keperawatan.  Jakarta: Salemba Medika.

Mubarak, Wahit Iqbal, SKM dan Ns. Nurul Chayatin, S. Kep. 2007.  Buku Ajar Kebutuhan Dasar Manusia Teori dan Aplikasi dalam Praktik.  Jakarta: EGC.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar