AKTUALISASI DIRI MASLOW
MAKALAH
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah :
Teori Belajar dan Pembelajaran Anak Usia Dini (TBP AUD)
Semester 2
Dosen Pengampu :
LUTFATULATIFAH M.Pd
Disusun oleh :
WAFIQ
NUR AFIFAH (2008108002)
LAUHANI
TSANIYATUL WAFA (2008108009)
MUCHAMMAD
NAJIICH (2008108019)
PENDIDIKAN
ISLAM ANAK USIA DINI
FAKULTAS ILMU
TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA
ISLAM NEGERI SYEKH NURJATI CIREBON
TAHUN 2021
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah
puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat,
kehendak, kekuatan, pertolongan dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan
proposal skripsi ini. Solawat serta salam
semoga senantiasa tercurah kepada baginda Rasulullah SAW, keluarga dan para
sahabat yang telah memberikan penerangan bagi umat Islam.
Makalah dengan judul “ Aktualisasi Diri Maslow ” ini disusun untuk memenuhi tugas mata
kuliah Teori Belajar dan Pembelajaran Anak Usia Dini (TBP AUD) Institut Agama Islam Negeri Syekh Nurjati Cirebon.
Penulis menyadari bahwa dalam menyelesaikan makalah ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena
itu penulis menyampaikan terima kasih kepada seluruh rekan satu kelompok yang
telah bahu membahu dalam menyusun, menganalisis, serta menyelesaikan makalah
ini.
Penulis juga menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan
kritik dan saran yang sifatnya membangun dari pembaca sehingga dapat menyempurnakan
penulisan makalah ini.
Akhir kata,
semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi berbagai
pihak yang membutuhkan
Cirebon, 1 Maret 2021
Penulis
DAFTAR ISI
1.2 Pengertian Aktualisasi
Diri
1.2 Ciri-ciri Aktualisasi
Diri
2.4 Aspek-aspek
Aktualisasi Diri
2.5 Faktor-faktor yang
Mempengaruhi Aktualisasi Diri
2.6 Cara Mengembangkan
Aktualisasi Diri
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Abraham
Maslow adalah seseorang yang ahli dalam hal teori suatu ilmu, atau biasa di
sebut teoretikus yang banyak memberi inspirasi dalam
teori kepribadian . Beliau lahir pada 1 April 1908 dan meninggal 8 Juni 1970 pada umur
62 tahun. Beliau juga seorang psikolog yang berasal dari Amerika dan menjadi
seorang pelopor aliran psikologi humanistik. Beliau terkenal dengan teorinya
tentang hierarki kebutuhan manusia
Selain dalam
bidang psikolog, Beliau juga memberikan kontribusi bagi ilmu pengetahuan
manajemen. Bahkan ada yang menyebut bahwa Maslow adalah bapak manajemen modern.
Pemikiran-pemikiran Maslow berkaitan dengan kemanusiaan (humanity) yang
berhubungan dengan semua aspek kehidupan. Teori-teori Maslow banyak dirujuk
sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan
Maslow
menggunakan piramida sebagai peraga untuk memvisualisasi gagasannya mengenai
teori hierarki kebutuhan. Menurut Maslow, manusia termotivasi untuk memenuhi
kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan
atau hierarki, mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai
yang paling tinggi (aktualisasi diri)
Dari
penjelasan-penjelasan di atas, penulis tertarik untuk membahas lebih mendalam
mengenai Teori Aktualisasi diri menurut Abraham Maslow dan dtuangkan ke dalam
bentuk suatu karya ilmiah berupa makalah.
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat ditentukan rumusan masalah dalam
makalah ini adalah sebagai berikut:
1.
Apakah Pengertian
Aktualisasi Diri ?
2.
Bagaimana Teori Aktualisasi diri menurut Maslow ?
3.
Apa saja Faktor-faktor yang Mempengaruhi Aktualisasi Diri menurut Maslow?
1.3
Tujuan penulisan
Adapun Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk :
1.
Mengetahui pengertian Aktualisasi Diri
2.
Memahami Teori Aktualisasi diri Menurut Maslow
3.
Memahami Faktor-faktor yang mempengaruhi Aktualisasi Diri
menurut Maslow
BAB II
PEMBAHASAN
AKTUALISASI DIRI MASLOW
2.1
Pengertian
Aktualisasi Diri
Aktualisasi
diri merupakan puncak kematangan dan kedewasaan seseorang saat mampu
memanfaatkan potensi sekaligus mengetahui batasan dan kekurangan yang dimiliki.
Membuat orang lain tertawa merupakan salah satu aktualisasi diri.
Maslow
(Jarvis, 2015) mendeskripsikan bahwa aktualisasi diri adalah menemukan
pemenuhan pribadi dan mencapai potensi diri. Maslow menggambarkan manusia yang
sudah mengaktualisasikan diri sebagai orang yang sudah terpenuhi semua
kebutuhannya dan melakukan apapun yang bisa mereka lakukan. Adhani (Kurnia
& Shinta, 2015) berpendapat bahwa aktualisasi diri adalah proses menjadi
diri sendiri dalam mengerjakan sesuatu yang disukai. Pengerjaan itu dilakukan
dengan gairah sesuai dengan potensi yang ada didalam dirinya. Hal ini merupakan
kebutuhan pencapaian tertinggi manusia.
Aktualisasi
diri adalah keinginan untuk memperoleh kepuasan dengan dirinya sendiri (self
fulfilment), untuk menyadari semua potensi dirinya, untuk menjadi apa saja yang
dia dapat melakukannya, dan untuk menjadi kreatif dan bebas mencapai puncak
prestasi potensinya. Manusia yang dapat mencapai tingkat aktualisasi diri ini
menjadi manusia yang utuh, memperoleh kepuasan dari kebutuhan-kebutuhan yang
orang lain bahkan tidak menyadari ada kebutuhan semacam itu. Mereka mengekspresikan
kebutuhan dasar kemanusiaan secara alami, dan tidak mau ditekan oleh budaya
(Alwisol, 2016).
Menurut
Maslow (Friedman & Schustack, 2006) aktualisasi diri adalah proses bawaan
dimana orang cenderung untuk tumbuh secara spritual dan menyadari potensinya.
Hanya sedikit orang yang berhasil mengaktualisasikan diri sepenuhnya, namun
banyak yang sedang menuju arah tersebut. Menariknya, pemikiran mengenai
aktualisasi diri pertama kali diusulkan oleh Carl Jung. Rogers (Syafitri, 2014)
mengatakan bahwa aktualisasi diri adalah kecenderungan untuk melihat ke depan
menuju perkembangan kepribadian. Konsep aktualisasi diri merujuk pada
kecenderungan organisme untuk tumbuh dari makhluk yang sederhana menjadi suatu
yang kompleks, lalu berubah dari ketergantungan menuju kemandirian dari sesuatu
yang tetap dan kaku menuju proses perubahan dan kebebasan berekspresi.
Sedangkan Aktualisasi diri atau self-actulization dalam psikologi humanistik
yaitu kecenderungan untuk berjuang menjadi apapun yang mampu kita raih, motif
yang mendorong kita untuk mencapai potensi yang penuh dan mengekspresikan
kemampuan kita yang unik.
Dari
beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa aktualisasi diri adalah
terungkapnya suatu keadaan seseorang yang selama ini terselubung atau
tersembunyi yang mana suatu saat pasti terungkap dengan sendirinya sebagai
tanda atau ciri khas yang membedakan dirinya dengan orang lain.
Pendapat
dari pakar psikologi lainnya menyatakan aktualisasi diri juga bisa dicapai
meski seseorang masih memiliki ‘lubang’ pada kebutuhan dasar dan psikologisnya.
Mereka berpendapat aktualisasi diri lebih menggambarkan sikap seseorang yang
sangat positif terhadap perkembangan dan kesehatan dirinya dibanding mencapai
kesempurnaan, sukses, atau kebahagiaan tertentu.
2.2
Proses Aktualisasi
Diri
Menurut Koeswara
Meskipun
demikian, tidak ada orang yang lahir sudah pada level aktualisasi diri. Kondisi
psikologi ini didapat melalui proses yang panjang, bahkan bertahun-tahun, tidak
memandang usia, ras, atau gender.
Hal
yang membuat seseorang mengalami aktualisasi diri berbeda-beda, misalnya:
Ø Menjalani hidup seperti anak-anak,
yakni menyerap semua hal (baik dan buruk) yang ada di lingkungan
Ø Tidak bermain aman dan bersemangat
mencoba hal-hal baru
Ø Mendengarkan kata hati dan pikiran
sendiri, bukan hanya berdasarkan pada suara mayoritas atau tradisi yang berlaku
Ø Menghindari kepura-puraan dan selalu
jujur pada diri sendiri maupun orang lain
Ø Bertanggung jawab dan bekerja keras
Ø Tidak takut membuat keputusan yang
tidak populer, sekalipun keputusan tersebut bertentangan dengan mayoritas
Ø Mengenali kelemahan Anda sendiri.
Mencapai
aktualisasi diri bukan berarti Anda telah berubah menjadi manusia yang
sempurna. Anda tetap bisa jadi orang humoris atau sembrono, tapi tetap fokus
dalam mewujudkan potensi yang Anda miliki.
2.3
Ciri-ciri
Aktualisasi Diri
Adapun
ciri-ciri aktualisasi diri menurut Maslow (Jarvis, 2015) menggambarkan manusia
yang sudah mengaktualisasikan diri sebagai orang yang sudah terpenuhi semua
kebutuhannya dan melakukan apapun yang bisa mereka lakukan, yaitu sebagai
berikut :
i.
Memiliki persepsi akurat tentang realitas
ii.
Menikmati pengalaman baru
iii.
Memiliki kecendrungan untuk mencapai pengalaman puncak
iv.
Memiliki standar moral yang jelas
v.
Memiliki selera humor
vi.
Merasa bersaudara dengan semua manusia
vii.
Memiliki hubungan pertemanan yang erat
viii.
Bersikap demokratis dalam menerima orang lain
ix.
Membutuhkan privasi
x.
Bebas dari budaya dan lingkungan
xi.
Kreatif
xii.
Spontan
xiii.
Lebih berpusat pada permasalahan, bukan pada diri sendiri
xiv.
Mengakui sifat dasar manusia
xv.
Tidak selalu ingin menyamakan diri dengan orang lain
Menurut
Asmadi (2008), adapun karakteristik atau ciri yang menunjukkan seseorang
mencapai aktualisasi diri diantaranya yaitu:
·
Mampu melihat realitas secara lebih efisien.
Sikap ini akan membuat seseorang
untuk mampu mengenali kebohongan, kecurangan, kepalsuan, yang dilakukan orang
lain, juga mampu menganalisis secara kritis, logis dan mendalam terhadap segala
fenomena alam dan kehidupan.
·
Penerimaan terhadap diri sendiri dan orang lain apa adanya.
Orang yang sudah mengaktualisasikan
dirinya akan melihat orang lain seperti melihat dirinya sendiri yang penuh
dengan kekurangan dan kelebihan. Sifat tersebut akan menghasilkan sikap
toleransi yang tinggi terhadap orang lain juga kesabaran yang tinggi dalam
menerima diri sendiri dan orang lain.
·
Spontanitas, kesederhanaan dan kewajaran.
Orang yang mengaktualisasikan
dirinya dengan benar ditandai dengan segala tindakan, perilaku dan gagasannya
dilakukan secara spontan, wajar, dan tidak dibuat-buat.
·
Terpusat pada persoalan.
Orang yang mengaktualisasikan diri
seluruh pikiran, perilaku, dan gagasannya bukan didasarkan untuk kebaikan
dirinya saja, tapi juga didasarkan apa kebaikan dan kepentingan yang dibutuhkan
umat manusia.
·
Membutuhkan kesendirian.
Pada umumnya orang yang sudah
mencapai aktualisasi diri cenderung memisahkan diri. Sikap tersebut didasarkan
atas persisnya mengenai sesuatu yang ia anggap benar, tetapi tidak bersifat
egois dan tidak bergantung pada pikiran orang lain.
·
Otonomi, kemandirian terhadap kebudayaan dan lingkungan.
Orang yang sudah mencapai
aktualisasi diri tidak menggantungkan diri pada lingkungannya ia bisa melakukan
apa saja dan di mana saja tanpa dipengaruhi oleh lingkungan baik situasi dan
kondisi yang mengelilinginya.
·
Kesegaran dan apresiasi yang berkelanjutan.
Ini merupakan manifestasi dari rasa
syukur atas segala potensi yang dimiliki pada orang yang mampu
mengaktualisasikan dirinya. Ia akan diselimuti perasaan senang, kagum, dan
tidak bosan terhadap segala apa yang ia miliki.
·
Kesadaran sosial.
Orang yang mampu mengaktualisasikan
diri, jiwanya diliputi perasaan empati, iba, kasih sayang, dan ingin membantu
orang lain. Perasaan tersebut ada meski orang lain berperilaku jahat terhadap
dirinya. Dorongan ini akan memunculkan kesadaran sosial dimana ia memiliki rasa
untuk bermasyarakat dan menolong orang lain.
·
Hubungan interpersonal.
Orang yang mampu mengaktualisasikan
diri memiliki kecenderungan untuk menjalin hubungan yang baik dengan orang
lain. Hubungan interpersonal tersebut tidak didasari perasaan cinta, kasih
sayang, dan kesabaran meski orang tersebut mungkin tidak cocok dengan perilaku
masyarakat di sekelilingnya.
·
Demokratis.
Orang yang mampu mengaktualisasikan
diri mempunyai sifat demokratis. Sifat tersebut dimanifestasikan dengan
perilaku yang tidak membedakan orang lain berdasarkan golongan, etis, agama,
suku, ras, status sosial-ekonomi, partai dan lain sebagainya.
·
Rasa humor yang bermakna dan etis.
Rasa humor orang yang
mengaktualisasikan diri berbeda dengan humor yang menghina kebanyakan orang. Ia
tidak akan tertawa terhadap humor yang menghina, merendahkan, bahkan
menjelekkan orang lain.
·
Kreativitas.
Orang yang mengaktualisasikan diri
memiliki sikap kreativitas tanpa tendensi atau pengaruh dari manapun dan
siapapun. Kreativitas ini diwujudkan dalam kemampuannya melakukan inovasi yang
spontan, asli, tidak dibatasi oleh lingkungan maupun orang lain.
·
Independensi.
Orang yang mengaktualisasi diri
mampu mempertahankan pendirian dan keputusan yang ia ambil. Tidak goyah atau
terpengaruh berbagai guncangan atau kepentingan.
·
Pengalaman puncak.
Orang yang mengaktualisasikan diri
akan memiliki perasaan yang menyatu dengan alam. Ia merasa tidak ada batas atau
sekat antara dirinya dengan alam semesta. Artinya, orang yang mampu
mengaktualisasikan diri terbebas dari sekat berupa suku, bahasa, agama,
ketakutan, keraguan, dan sekat-sekat lainnya.
2.4
Aspek-aspek Aktualisasi Diri
Menurut Maslow (1987), aspek-aspek aktualisasi diri pada seseorang
diantaranya yaitu: Kreativitas
(creativity), yaitu sikap yang diharapkan ada pada orang yang beraktualisasi
diri. Sifat kreatif hampir memiliki arti yang sama dengan kesehatan,
aktualisasi diri dan sifat manusiawi yang penuh. Sifat-sifat yang dikaitkan
dengan kreativitas tersebut diantaranya yaitu fleksibilitas, spontanitas,
keberanian, berani membuat kesalahan, keterbukaan dan kerendahan hati.
Moralitas (morality), yaitu kemampuan manusia melihat hidup lebih
jernih, melihat hidup apa adanya bukan menurutkan keinginan. Kemampuan melihat
secara lebih efisien, menilai secara lebih tepat manusiawi secara penuh yang
ternyata merembes pula ke banyak bidang kehidupan lainnya.
Penerimaan diri (self acceptance).
Banyak kualitas pribadi yang bisa dirasakan di permukaan yang tampak bervariasi
dan tidak berhubungan kemudian bisa dipahami sebagai manifestasi atau turunan
dari sikap yang lebih mendasar yakni relatif kurangnya rasa bersalah,
melumpuhkan rasa malu dan kecemasan dalam kategori berat.
Spontanitas (Spontaneity). Aktualisasi diri manusia bisa
digambarkan sebagai relatif spontan pada perilaku dan jauh lebih spontan
daripada di kehidupan batin, pikiran, impuls, dan lain sebagainya. Perilaku
tersebut ditandai dengan kesederhanaan, kealamian dengan kurangnya kesemuan
tersebut tidak selalu berarti perilaku konsisten yang tidak konvensional.
Pemecahan masalah (Problem Solving),
yaitu individu akan lebih menghargai keberadaan orang lain dalam lingkungannya,
Dengan beberapa pengecualian bisa dikatakan bahwa biasanya objek bersangkutan
dengan isu-isu dasar dan pertanyaan dari jenis yang telah dipelajari secara
filosofis atau etika.
Vallet
(Putri, 2007) berpendapat bahwa aspek-aspek proses perkembangan seseorang untuk
mewujudkan aktualisasi dirinya, antara lain:
a.
Memahami kebutuhan dasar yang manusiawi, yaitu bagaimana individu
memahami kebutuhan-kebutuhannya yang paling mendasar.
b.
Mengungkapkan perasaan yang manusiawi, yaitu ungkapan-ungkapan
individu tentang apa yang dirasakannya.
c.
Kesadaran dan kontrol diri, bagaimana individu mampu menyadari dan
mengontrol setiap tindakannya sehingga sesuai dengan harapan-harapannya.
d.
Menjadi sadar akan nilai-nilai manusiawi, kemampuan individu untuk
bisa menerima nilai-nilai yang berlaku di sekelilingnya, seperti bekerja sama
dengan orang lain.
e.
Mengembangkan kedewasaan sosial dan individu, kemampuan individu
untuk dapat mempertimbangkan segala tindakan yang dilakukan serta mampu
menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya.
2.5
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Aktualisasi Diri
Ada
beberapa faktor yang mempengaruhi aktualisasi diri. Orang yang mampu
mengaktualisasikan dirinya sangat memahami bahwa ada eksistensi atau hambatan
lain tinggal (indwelling) di dalam (internal) atau di luar (eksternal) keberadaannya
sendiri yang mengendalikan perilaku dan tindakannya untuk melakukan sesuatu.
·
Faktor Internal :
Faktor
internal yaitu bentuk hambatan yang berasal dari dalam diri seseorang seperti:
-
Ketidaktahuan akan potensi diri .
-
Perasaan ragu dan takut mengungkapkan potensi diri, sehingga
potensinya tidak dapat terus berkembang.
Potensi diri, yaitu modal yang perlu
diketahui, digali dan dimaksimalkan. Sesungguhnya perubahan hanya bisa terjadi
jika kita mengetahui potensi yang ada dalam diri kita kemudian mengarahkannya
kepada tindakan yang tepat dan teruji.
·
Faktor Eksternal :
Faktor
eksternal yaitu hambatan yang berasal dari luar diri seseorang, seperti:
Budaya masyarakat yang tidak mendukung upaya aktualisasi potensi
diri seseorang karena perbedaan karakter. Pada kenyataannya lingkungan
masyarakat tidak sepenuhnya menunjang upaya aktualisasi diri warganya.
Faktor lingkungan. Lingkungan masyarakat berpengaruh terhadap upaya
mewujudkan aktualisasi diri. Aktualisasi diri bisa dilakukan jika lingkungan
mengizinkannya. Lingkungan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi
terhadap pembentukan dan perkembangan perilaku individu, baik lingkungan fisik
maupun lingkungan sosio-psikologis.
Pola asuh. Pengaruh keluarga dalam pembentukan aktualisasi diri
anak sangat berarti. Banyak faktor dalam keluarga yang ikut berpengaruh dalam
proses perkembangan anak. Salah satu faktor dalam keluarga yang berperan
penting dalam pengaktualisasian diri yaitu praktik pengasuhan anak.
Anari
(Putri, 2007) menyebutkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi aktualisasi
diri adalah:
o Kreativitas, merupakan sikap yang
diharapkan ada pada orang yang beraktualisasi diri. Kreativitas bagi mereka
adalah suatu sikap. Individu ini asli, inventif dan inovatif meski tidak harus
menghasilkan sesuatu.
o Kepribadian, yaitu organisasi yang
dinamis dalam diri individu yang terdiri dari sistem-sistem psiko-fisik yang
menentukan cara penyesuaian diri yang unik (khusus) dari individu terhadap
lingkungan.
o Transendensi, yaitu lebih tinggi,
unggul, agung, melampaui superlatif arti yang lain tidak tergantung dan
tersendiri. Individu yang beraktualisasi diri akan berusaha menjadi yang
terbaik.
o Demokratis, orang yang
beraktualisasi diri bertingkah laku lebih dalam daripada toleransi. Meski
individu menyadari bahwa perbedaan-perbedaan dengan orang lain, tetapi individu
dapat menerima semua orang tanpa memperhatikan tingkat pendidikan dan kelas
sosial. Individu siap mendengarkan dan belajar pada siapa saja yang dapat
mengajarkan itu pada dirinya.
o Hubungan sosial, yaitu individu akan
lebih menghargai keberadaan orang lain dalam lingkungannya.
Berdasarkan
faktor-faktor diatas, dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi
aktualisasi diri yaitu kreativitas, kepribadian, transendensi, demokratis, dan
hubungan sosial.
2.6 Cara
Mengembangkan Aktualisasi Diri
Ada
3 langkah yang bisa dilakukan untuk menumbuhkan aktualisasi diri diantaranya
yaitu:
a.
Mengenali potensi dan bakat unik yang ada dalam diri.
b.
Mengasah kemampuan unik setiap hari.
c.
Buat diri menjadi berbeda.
Contoh
aktualisasi diri dalam kehidupan sehari-hari diantaranya:
·
Mengikuti olimpiade science nasional untuk meningkatkan potensi
kemampuan dalam diri.
·
Pemberian pekerjaan yang lebih menantang dari manager kepada
bawahannya.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Aktualisasi diri adalah kebutuhan yang tertinggi, sebelumnya ada
kebutuhan fisiologis, keamanan, cinta dan keberadaan, penghargaan dan baru naik
ke aktualisasi diri. Maslow menyusun teori motivasi manusia, dimana variasi
kebutuhan manusia dipandang tersusun dalam bentuk hirarki atau berjenjang.
Setiap jenjang kebutuhan dapat dipenuhi hanya jenjang sebelumnya telah
(relatif) terpuaskan. Jadi kebutuhan fisiologis harus terpuaskan lebih dahulu
sebelum muncul kebutuhan rasa
aman. Sesudah kebutuhan
fisiologis dan rasa
aman terpuaskan, baru muncul kebutuhan cinta dan keberadaan, begitu
seterusnya sampai kebutuhan akan aktualisasi diri muncul.
3.2
Saran
Penelitian
diatas belumlah sempurna, hal ini masih sangat terbuka untuk diteliti melalui pendekatan
lainnya.
Demikian makalah ini penulis
susun, penulis sadar bahwa dalam penyusunan makalah ini masih
banyak kekurangan oleh karena itu penulis mengharapkan berbagai macam kritik demi
sempurnanya makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Jarvis, M. (2015). Teori-teori
Psikologi . Bandung: Nusa Media.
Koeswara, E. (1991). Teori Kepribadian.
Bandung: Eresco.
Alwisol. 2016. Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press.
Friedman & Schustack. 2006. Kepribadian
Teori Klasik dan Riset Modern. Jakarta: Erlangga.
Jarvis, Matt. 2015. Teori-Teori Psikologi.
Bandung: Nusa Media.
Kurnia & Shinta. 2015. “Hubungan antara
Kohesivitas Organisasi dengan Aktualisasi Diri pada Anggota Komunitas Pemuda
Gereja”. Jurnal. Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta.
Syafitri, Selviana. 2014. “Pengaruh Harga
Diri Dan Kepercayaan Diri Dengan Aktualisasi Diri Pada Komunitas Modern Dance
Di Samarinda”. Jurnal Psikologi, Volume 2, Nomor 2, 2014 : 290 – 301.
Putri, Tika Desytama. 2007. “Kebutuhan
Aktualisasi Diri Pada Remaja Penyandang Tunanetra Yang Bersekolah
Di Sekolah Umum Ditinjau Dari Kematangan Emosi Dan Self Disclosure”. Jurnal. Fakultas Psikologi Universitas
Muhammadiyah Surakarta.
Hidayat, A. Aziz Alimul. 2009. Pengantar
Kebutuhan Dasar Manusia Aplikasi Konsep dan Proses Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Mubarak, Wahit Iqbal, SKM dan Ns.
Nurul Chayatin, S. Kep. 2007. Buku
Ajar Kebutuhan Dasar Manusia Teori dan Aplikasi dalam Praktik. Jakarta: EGC.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar