Kamis, 03 Juni 2021

REVIEW BUKU NOVEL TOTTO-CHAN

 

TUGAS REVIEW BUKU NOVEL TOTTO-CHAN

MAKALAH

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas UAS Mata Kuliah :

Teori Belajar dan Pembelajaran Anak Usia Dini (TBP AUD)

Semester 2

 

Dosen Pengampu :

LUTFATULATIFAH M.Pd

 

                                                                               

 

 

 

 

 

 

Disusun oleh :

NAMA                       : MUCHAMMAD NAJIICH

NIM                             : 2008108019

SEMESTER/KELAS : 2/A

 

 

PENDIDIKAN ISLAM ANAK USIA DINI

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SYEKH NURJATI CIREBON

TAHUN 2021


RESENSI NOVEL TOTTO-CHAN ( GADIS CILIK DI JENDELA )

Pengarang                   : Tetsuko Kuroyanagi

Judul asli                     : Madogiwa no Totto-chan

Penerjemah                  : Dorothy Britton

Ilustrator                     : Chihiro Iwasaki

Perancang sampul       : Chihiro Iwasaki

Negara                         : Japan

Bahasa                         : Japanese

Genre                          : Sastra anak-anak Novel autobiografi

Penerbit                       : Kodansha Publishers Ltd.

Tanggal rilis                 : 1981

Versi Inggris               : 1984

Jenis media                  : Print (Paperback)

Halaman                      : 232 pp

ISBN                           : 4-7700-2067-8, 9784770020673

 

Tetsuko Kuroyanagi menuliskan buku anak-anak yang berjudul Totto-Chan: Gadis Cilik di Jendela. Judul asli buku ini adalah Madogiwa no Totto-chan. Buku ini pertama kali diterbitkan di Jepang sebagai artikel bersambung dalam majalah Kodansha, Young Woman, yang muncul mulai dari Februari 1979 hingga Desember 1980. Buku ini berkisah mengenai nilai pendidikan yang Kuroyanagi terima di Tomoe Gakuen, SD di Tokyo yang didirikan oleh pendidik Sosaku Kobayashi selama Perang Dunia II.

 

Pengalaman Membaca

Setelah membaca buku ini, saya sangat terinspirasi dengan tingkahnya Totto Chan yang dulunya sangat nakal, namun berubah seperti orang dewasa ketika di pindahkan. Ceritanya cukup menarik, bahkan sastranya yang mudah di pahami yang dapat peminat membaca semakin bertambah. Begitu membacanya, saya langsung tertarik dengan ceritanya yang berisi tentang menghargai anak sesuai dengan minat dan bakatnya.

Bagi saya membaca buku ini, memberikan banyak pelajaran, tentang bagaimana menerima anak sesuai dengan bakat dan minat yang dimilikinya. Buku ini juga memberikan metode pengajaran yang dilakukan oleh kepala sekolah Totto Chan yakni Mr. Sosaku Kobayashi yang memberikan banyak manfaat bukan hanya memberikan nilai kognitif dalam rapor saja melainkan dapat menjadi sarana pengembangan bagi murid muridnya. Secara tidak langsung mereka belajar tentang sains, biologi dan sejarah, mengaplikasikan ilmu di bawah bimbingan seorang ahli, mengenali rasa takut dan menaklukannya, bertanggung jawab atas perbuatan, serta makna menghargai perbedaan.

 

Sinopsis Buku

Buku ini berkisah tentang seorang anak yang bernama Totto-chan di saat menempuh pendidikan di sekolah dasar. Sang penulis memberikan judul Totto Chan diambil dari namanya di waktu kecil. Totto Chan kecil dikeluarkan dari sekolah saat duduk di kelas satu. Ibunya sangat khawatir dengan ulahnya yang selalu mengacawkan suasana. Guru di sekolahnya yang lama, menganggap Totto Chan adalah anak yang nakal. Beruntung dia memiliki orang tua yang sangat memahami karakter anaknya, dan penuh kasih sayang, serta senantiasa memberikan motivasi positif bagi Totto Chan.

Lalu Ibu Totto-chan pun menyekolahkannya ke Tomoe Gakuen. Sekolah yang menerapkan kepandaian majemuk dalam mendidik murid-muridnya. Sekolah yang sangat sederhana, gerbang sekolahnya terdiri atas dua batang kayu yang masih ditumbuhi ranting dan daun, serta ruang kelasnya adalah bekas gerbong kereta api. Di sekolah ini, para siswanya diberi kebebasan untuk mempelajari pelajaran yang mereka sukai. Totto-chan sangat senang sekali, bisa belajar sambil menikmati keindahan alam.

Di sekolah tersebut Totto-chan memiliki banyak teman dengan masing-masing karakter, namun tetap saling menghormati. Di Tomoe Gakuen Totto Chan bertemu dengan kepala sekolahnya yang bernama Pak Sosaku Kobayashi, adalah sosok pendidik yang menyenangkan dan memahami setiap karakter anak. Di sekolah ini, para guru mendidik anak dengan cinta dan kasih sayang. Mereka benar-benar menghargai kelebihan yang dimiliki setiap anak. Totto Chan mendapat pengalaman yang sangat berharga mengenai kebersamaan, kebebasan, persahabatan, hormat menghormati dan lain sebagainya. Hingga akhirnya ia menemukan dunia yang sebenarnya di Tomoe Gakuen.

 

Kelebihan Buku

Buku ini sangat cocok dibaca oleh anak-anak sampai orang dewasa, sangat menarik dan bahasanya mudah dipahami. Membaca buku ini, kita akan diajak mengenal negara Jepang pada masa sebelum perang dunia kedua, dengan semua keindahan alamnya, dan juga mengenal lebih dekat tentang pendidikan di Jepang.

 

Kekurangan Buku

Bagi saya, dari banyaknya kelebihan dalam buku ini, pasti ada kekuranganya. Salah satunya masih terdapat bahasa yang susah, sehingga pembaca perlu membuka kamus sebagai bantuan untuk menikmati membacanya.

Dan saya masih penasaran dengan bentuk kereta api tersebut, yang menjadi salah satu kenangan terindah bagi Totto Chan setelah dewasa. Dan di sini tidak ada gambar gerbong kereta bekas yang menjadi kelas totto Chan.

 

Analisis Keterkaitan Kejadian Di Novel Dengan Teori Piaget

Dalam Novel Madogiwa no Totto-chan, saya akan mengunakan teori perkembangan kognitif anak dari Jean Piaget untuk membantu menjelaskan tentang perkembangan kognitif. Dengan alasan teori ini memusatkan pada perkembangan intelegensi anak serta tahap-tahapnya.

Adanya perubahan perkembangan sikap terhadap tokoh utama yaitu Totto Chan yang sesuai dengan perkembangan kognitif. Perkembangan Kognitif merupakan pertumbuhan berfikir logis dari masa bayi hingga dewasa, menurut Piaget perkembangan yang berlangsung melalui empat tahap,yaitu: Tahap sensori-motor : 0 – 1,5 tahun ,tahap pra-operasional : 1,5 – 6 tahun, tahap operasional konkrit : 6 – 12 tahun , tahap operasional formal : 12 tahun ke atas.

Piaget percaya, bahwa kita semua melalui keempat tahap tersebut, meskipun mungkin setiap tahap dilalui dalam usia berbeda. Setiap tahap dimasuki ketika otak kita sudah cukup matang untuk memungkinkan logika jenis baru atau operasi. (MattJarvis, 2011:148).

Semua manusia melalui setiap tingkat, tetapi dengan kecepatan yang berbeda, jadi mungkin saja seorang anak yang berumur 6 tahun berada pada tingkat operasional konkrit, sedangkan ada seorang anak yang berumur 8 tahun masih padatingkat pra-operasional dalam cara berfikir. Namun urutan perkembangan intelektual sama untuk semua anak, struktur untuk tingkat sebelumnya terintegrasi dan termasuk sebagai bagian dari tingkat-tingkat berikutnya. (Ratna Wilis, 2011:137).

Totto Chan yang duduk di sekolah dasar masuk dalam tahap operasional konkrit (usia 7-12 tahun) Pada tahap operasional konkret ini, anak memiliki kemajuan kognitif atau pemahaman yang lebih baik dibandingkan dengan tahap sebelumnya. Mereka menjadi lebih terorganisasi ke sistem proses mental yang lebih indah yang memudahkan mereka berfikir lebih logis daripada sebelumnya.

Menurut Piaget, proses memperoleh informasi dengan berpikir seseorang itu terus berkembang dari lahir sampai dewasa (Suparno, 2001 : 5).

Menurut Wheatley (1991: 12) berpendapat dengan mengajukan dua prinsip utama dalam pembelajaran dengan teori belajar konstruktivitas. Pertama, pengetahuan tidak dapat diperoleh secara pasif, tetapi secara aktif oleh struktur kognitif siswa. Kedua, fungsi kognisi bersifat adaptif dan membantu pengorganisasian melalui pengalaman nyata yang dimiliki anak.

Dalam tahap berpikir ini, anak-anak menghormati ketentuan-ketentuan suatu permainan sebagai sesuatu yang bersifat suci dan tidak dapat diubah, karena berasal dari otoritas yang dihormatinya.

Dari semua kejadian yang di ceritakan pada buku itu kita dapat mengetahui beberapa hal, seperti, bagaimana sebenarnya perkembangan yang terjadi pada anak di mulai pada tahap pertama yaitu sensori motorik hingga tahap operasional fomal. Anak cenderung memiliki rasa ingin tahu yang besar, dan dia akan selalu menirukan apa yang ia lihat pada masa-masa perkembangannya itu.

DAFTAR PUSTAKA

 

Jean Piaget, 2002. Tingkat Perkembangan Kognitif. Jakarta, Gramedia.

Munandar, 2001. Pengembangan Kognitif Anak Usia Dini. Jakarta. Gramedia.

Rubin Fein, Vanderberg dan Smiolansky dalam Meyke ST, 2006. Metode Pengembangan Kognitif. Jakarta, UT.

Teori dan Aplikasi, Bandung: Pakar Raya, 2004. Psikologi. Jakarta: 2006.

Ella Yulaelawati, 2004. Kurikulum dan Pembelajaran; Filosofi Teori dan Aplikasi, Bandung: PakarRaya.

Dahar dan Ratna wilis, 2001. Teori-teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Penerbit Erlangga.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar