TUGAS REVIEW BUKU NOVEL TOTTO-CHAN
MAKALAH
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas UAS Mata Kuliah :
Teori Belajar dan Pembelajaran Anak Usia Dini (TBP AUD)
Semester 2
Dosen Pengampu :
LUTFATULATIFAH M.Pd
Disusun oleh :
NAMA : MUCHAMMAD NAJIICH
NIM : 2008108019
SEMESTER/KELAS
: 2/A
PENDIDIKAN
ISLAM ANAK USIA DINI
FAKULTAS ILMU
TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA
ISLAM NEGERI SYEKH NURJATI CIREBON
TAHUN 2021
RESENSI NOVEL TOTTO-CHAN ( GADIS CILIK DI
JENDELA )
Judul
asli : Madogiwa no Totto-chan
Penerjemah : Dorothy Britton
Ilustrator : Chihiro Iwasaki
Perancang
sampul : Chihiro Iwasaki
Negara : Japan
Bahasa : Japanese
Genre : Sastra anak-anak Novel autobiografi
Penerbit : Kodansha Publishers Ltd.
Tanggal
rilis : 1981
Versi
Inggris : 1984
Jenis
media : Print (Paperback)
Halaman : 232 pp
ISBN : 4-7700-2067-8, 9784770020673
Tetsuko Kuroyanagi menuliskan buku anak-anak
yang berjudul Totto-Chan: Gadis Cilik di Jendela. Judul asli buku ini adalah
Madogiwa no Totto-chan. Buku ini pertama kali diterbitkan di Jepang sebagai
artikel bersambung dalam majalah Kodansha, Young Woman, yang muncul mulai dari
Februari 1979 hingga Desember 1980. Buku ini berkisah mengenai nilai pendidikan
yang Kuroyanagi terima di Tomoe Gakuen, SD di Tokyo yang didirikan oleh
pendidik Sosaku Kobayashi selama Perang Dunia II.
Pengalaman Membaca
Setelah membaca buku ini, saya sangat
terinspirasi dengan tingkahnya Totto Chan yang dulunya sangat nakal, namun
berubah seperti orang dewasa ketika di pindahkan. Ceritanya cukup menarik,
bahkan sastranya yang mudah di pahami yang dapat peminat membaca semakin
bertambah. Begitu membacanya, saya langsung
tertarik dengan ceritanya yang berisi tentang menghargai anak sesuai dengan
minat dan bakatnya.
Bagi saya membaca buku ini, memberikan banyak pelajaran, tentang
bagaimana menerima anak sesuai dengan bakat dan minat yang dimilikinya. Buku ini juga memberikan metode pengajaran yang dilakukan oleh kepala sekolah Totto Chan yakni Mr. Sosaku
Kobayashi yang memberikan
banyak manfaat bukan hanya memberikan nilai kognitif
dalam rapor saja melainkan dapat menjadi sarana pengembangan bagi murid muridnya. Secara tidak langsung mereka belajar tentang
sains, biologi dan sejarah, mengaplikasikan ilmu di bawah bimbingan seorang
ahli, mengenali rasa takut dan menaklukannya, bertanggung jawab atas perbuatan,
serta makna menghargai perbedaan.
Sinopsis Buku
Buku ini berkisah tentang seorang anak yang bernama Totto-chan di saat menempuh pendidikan di sekolah dasar. Sang penulis memberikan judul Totto Chan diambil dari namanya di waktu
kecil. Totto Chan kecil dikeluarkan dari sekolah saat duduk di kelas satu. Ibunya sangat khawatir dengan ulahnya yang
selalu mengacawkan suasana. Guru di
sekolahnya yang lama, menganggap Totto Chan adalah anak yang nakal. Beruntung
dia memiliki orang tua yang sangat memahami karakter anaknya, dan penuh kasih
sayang, serta senantiasa memberikan motivasi positif bagi Totto Chan.
Lalu Ibu Totto-chan pun menyekolahkannya ke
Tomoe Gakuen. Sekolah yang
menerapkan kepandaian majemuk dalam mendidik murid-muridnya. Sekolah yang sangat sederhana, gerbang sekolahnya
terdiri atas dua batang kayu yang masih ditumbuhi ranting dan daun, serta ruang
kelasnya adalah bekas gerbong kereta api. Di sekolah ini, para siswanya diberi
kebebasan untuk mempelajari pelajaran yang mereka sukai. Totto-chan sangat
senang sekali, bisa belajar sambil menikmati keindahan alam.
Di sekolah tersebut Totto-chan memiliki banyak
teman dengan masing-masing karakter, namun tetap saling menghormati. Di Tomoe
Gakuen Totto Chan bertemu dengan kepala sekolahnya yang bernama Pak Sosaku
Kobayashi, adalah sosok pendidik yang menyenangkan dan memahami setiap karakter
anak. Di sekolah ini, para guru mendidik anak dengan cinta dan kasih sayang. Mereka benar-benar menghargai kelebihan yang dimiliki setiap anak. Totto Chan mendapat pengalaman yang sangat berharga mengenai kebersamaan,
kebebasan, persahabatan, hormat menghormati dan lain sebagainya. Hingga
akhirnya ia menemukan dunia yang sebenarnya di Tomoe Gakuen.
Kelebihan Buku
Buku ini sangat cocok dibaca oleh anak-anak
sampai orang dewasa, sangat menarik dan bahasanya mudah dipahami. Membaca buku ini, kita akan diajak
mengenal negara Jepang pada masa sebelum perang dunia kedua, dengan semua
keindahan alamnya, dan juga mengenal lebih dekat tentang pendidikan di Jepang.
Kekurangan Buku
Bagi saya, dari banyaknya
kelebihan dalam buku ini, pasti ada kekuranganya. Salah satunya masih terdapat
bahasa yang susah, sehingga pembaca perlu membuka kamus sebagai bantuan untuk
menikmati membacanya.
Dan saya masih penasaran dengan bentuk kereta
api tersebut, yang menjadi salah satu kenangan terindah bagi Totto Chan setelah
dewasa. Dan di sini tidak ada gambar gerbong
kereta bekas yang menjadi kelas totto Chan.
Analisis Keterkaitan Kejadian Di Novel Dengan Teori Piaget
Dalam Novel Madogiwa no
Totto-chan, saya akan mengunakan teori
perkembangan kognitif anak dari Jean Piaget untuk membantu menjelaskan tentang
perkembangan kognitif. Dengan alasan teori ini memusatkan pada perkembangan
intelegensi anak serta tahap-tahapnya.
Adanya perubahan perkembangan sikap terhadap tokoh utama
yaitu Totto Chan yang sesuai dengan perkembangan kognitif. Perkembangan
Kognitif merupakan pertumbuhan berfikir logis dari masa bayi hingga dewasa,
menurut Piaget perkembangan yang berlangsung melalui empat tahap,yaitu: Tahap
sensori-motor : 0 – 1,5 tahun ,tahap pra-operasional : 1,5 – 6 tahun, tahap
operasional konkrit : 6 – 12 tahun , tahap operasional formal : 12 tahun ke
atas.
Piaget percaya, bahwa kita semua melalui keempat tahap
tersebut, meskipun mungkin setiap tahap dilalui dalam usia berbeda. Setiap
tahap dimasuki ketika otak kita sudah cukup matang untuk memungkinkan logika
jenis baru atau operasi. (MattJarvis, 2011:148).
Semua manusia melalui setiap tingkat, tetapi dengan
kecepatan yang berbeda, jadi mungkin saja seorang anak yang berumur 6 tahun
berada pada tingkat operasional konkrit, sedangkan ada seorang anak yang
berumur 8 tahun masih padatingkat pra-operasional dalam cara berfikir. Namun
urutan perkembangan intelektual sama untuk semua anak, struktur untuk tingkat
sebelumnya terintegrasi dan termasuk sebagai bagian dari tingkat-tingkat
berikutnya. (Ratna Wilis, 2011:137).
Totto Chan yang duduk di sekolah dasar masuk dalam tahap
operasional konkrit (usia 7-12 tahun) Pada tahap operasional konkret ini, anak
memiliki kemajuan kognitif atau pemahaman yang lebih baik dibandingkan dengan
tahap sebelumnya. Mereka menjadi lebih terorganisasi ke sistem proses mental
yang lebih indah yang memudahkan mereka berfikir lebih logis daripada
sebelumnya.
Menurut Piaget, proses memperoleh informasi dengan
berpikir seseorang itu terus berkembang dari lahir sampai dewasa (Suparno, 2001
: 5).
Menurut
Wheatley (1991: 12) berpendapat dengan mengajukan dua prinsip utama dalam
pembelajaran dengan teori belajar konstruktivitas. Pertama, pengetahuan tidak
dapat diperoleh secara pasif, tetapi secara aktif oleh struktur kognitif siswa.
Kedua, fungsi kognisi bersifat adaptif dan membantu pengorganisasian melalui
pengalaman nyata yang dimiliki anak.
Dalam tahap berpikir ini, anak-anak menghormati ketentuan-ketentuan
suatu permainan sebagai sesuatu yang bersifat suci dan tidak dapat diubah,
karena berasal dari otoritas yang dihormatinya.
Dari semua kejadian yang di ceritakan pada buku itu kita
dapat mengetahui beberapa hal, seperti, bagaimana sebenarnya perkembangan yang
terjadi pada anak di mulai pada tahap pertama yaitu sensori motorik hingga
tahap operasional fomal. Anak cenderung memiliki rasa ingin tahu yang besar,
dan dia akan selalu menirukan apa yang ia lihat pada masa-masa perkembangannya itu.
Jean Piaget, 2002. Tingkat Perkembangan Kognitif. Jakarta,
Gramedia.
Munandar, 2001. Pengembangan Kognitif Anak Usia Dini.
Jakarta. Gramedia.
Rubin Fein, Vanderberg dan Smiolansky dalam Meyke ST, 2006. Metode
Pengembangan Kognitif. Jakarta, UT.
Teori dan Aplikasi, Bandung: Pakar Raya, 2004. Psikologi.
Jakarta: 2006.
Ella Yulaelawati, 2004. Kurikulum dan Pembelajaran; Filosofi Teori
dan Aplikasi, Bandung: PakarRaya.
Dahar dan Ratna wilis, 2001. Teori-teori Belajar dan
Pembelajaran. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar