Jumat, 23 September 2022

Sejarah Pemikiran Paud dan Pradigma Tokoh Barat Tentang Aud

 

 

MAKALAH

Sejarah Pemikiran Paud dan Pradigma Tokoh Barat Tentang Aud

 

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliahKonsep Dasar PAUD

Pada Jurusan Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) ASemester I

Tahun akademik 2020/2021

 

 

                                                                               

 

 

 

 

 

 

Disusun oleh :

1.      WAFIQ NUR AFIFAH ( 2008108002 )

2.      ADHIRA SAFITRI (2008108004)

3.      NIKA RATNA DINA (2008108001

4.      MITA FEBRILIA PUTRI (2008108010)

5.      DINI FITRIANI SALSABILAH (2008108011)

6.      SITI BARKATUSSALSABILA (2008108015)

7.      MOH. RIZQI LUTVIANSYAH (2008108005)

 

DosenPengampu :

LUTFATULATIFAH M.Pd

JURUSAN PENDIDIKAN ISLAM ANAK USIA DINI (PIAUD)

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

SYEKH NURJATI CIREBON

TAHUN 2020


KATA PENGANTAR

 

 

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini yang berjudul “Konsep Peserta Didik Dalam Pendidikan Islam” ini tepat pada waktunya.

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas Bapak Dosen Durtam Sayidi Ag,M.Pd.I pada mata kuliah Ilmu Pendidikan Islam. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawasan dan pengetahuan bagi kami dan teman-teman semua tentang apa itu “Konsep Peserta Didik Dalam Pendidikan Islam”

Kami juga mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membagi sebagian pengetahuannya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.

Kami menyadari bahwa makalah yang kami buat ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan kami nantikan demi kesempurnaan makalah ini.

 

 

 

                                                                                                            Cirebon, 5 November 2020

                                                                                               

 

                                                                                                                        Kelompok 1

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

Kata Pengantar ................................................................................................................... i

Daftar Isi ...........................................................................................................................  ii

BAB I PENDAHULUAN  ................................................................................................. 1

1.1       Latar Belakang

1.2       Rumusan Masalah

1.3       Tujuan Penulisan

 

BAB II PEMBAHASAN .................................................................................................. 2

              2.1          johanann heinrich pestalozzi     

           2.2        Frederich Wilhelm Froebel

 

           2.3        Maria Montessori

 

BAB III PENUTUP ...............................................................................................10

            3.1       Kesimpulan

            3.2       Saran dan Kritik

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................11


BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang  

 

Pendidikan bagi kehidupan manusia merupakan suatu kebutuhan mutlak yangsangat penting dan harus dipenuhi sepanjang hayat.Pendidikan yang diselanggarakan diIndonesia merupakan realisasi dari salah satu didirikannya Negara Indonesia, yaitumencerdaskan kehidupan bangsa. Melalui pendidikan akan lahir manusia-manusia yangmampu memberikan sumbangan pada negara dengan potensi dan bakat yang dimiliki.Permasalahan saat ini metode yang beragam dan banyak ditawarkan oleh lembagapendidikan anak usia dini belum tentu cocok untuk anak. Dalam pernyataan tersebut,tentang metode apa yang cocok untuk digunakan dalam pendidikan anak, metodemontessori menjadi salah satu tawaran yang dapat dipilih dan pendidikan mulai dapatdiamati di negara maju maupun berkembang.

1.2 Rumusan Masalah

 

       1. Apa pemikiran dan pradigma tokoh Johann Heinrich Pestalozzi tentang aud ?

       2. Apa pemikiran dan pradigma tokoh Frederich Wilhelm Froebel tentang aud ?

       3. Apa pemikiran dan pradigma tokoh Maria Montessori tentang aud ?

      

1.2  Tujuan Pembahasan

 

Adapun tujuan dalam pembuatan makalah adalah :

 

1.      Untuk mengetahui pemikiran dan pradigma tokoh Johann Heinrich Pestalozzi tentang aud

2.      Untuk mengetahui pemikiran dan pradigma tokoh Wilhelm Froebel tentang aud

3.      Untuk mengetahui pemikiran dan pradigma tokoh Maria Montessori tentang aud

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1   JOHANN HEINRICH PESTALOZZI (1746 – 1827)

Johann Heinrich Pestalozzi adalah seorang ahli pendidikan Swiss yang hidup antara 1746-1827.Pestalozzi adalah seorang tokoh yang memiliki pengaruh cukup besar dalam dunia pendidikan. Pestalozzi berpandangan bahwa anak pada dasarnya memiliki pembawaan yang baik.Pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi pada anak berlangsung secara bertahap dan berkesinambungan. Lebih lanjut ia mengemukakan bahwa masing-masing tahap pertumbuhan dan perkembangan seorang individu haruslah tercapai dengan sukses sebelum berlanjut pada tahap berikutnya. Permasalahan yang muncul dalam suatu tahap perkembangan akan menjadi hambatan bagi individu tersebut dalam menyelesaikan tugas perkembangannya dan hal ini akan memberikan pengaruh yang cukup besar pada tahap berikutnya.

 

a.)    Pandangan dasar menurut Pestalozzi, diantaranya:

a.       Pertama menekankan pada pengamatan alam. Semua pengetahuan pada dasarnya bersumber dari pengamatan yang akan menimbulkan pengertian. Namun jika pengertian tersebut tanpa didasari pengamatan, maka akan menjadi sesuatu pengertian yang kosong (abstrak).

b.      Kedua adalah menumbuhkan keaktifan jiwa raga anak. Melalui keaktifan anak akan mampu mengolah kesan (hasil) pengamatanmenjadi suatu pengetahuan. Keaktifan akan mendorong anak melakukan interaksi dengan lingkungannya.

c.       Ketiga adalah pembelajaran pada anak harus berjalansecara teratur setingkat demi setingkat atau bertahap. Prinsip ini sangat cocok dengan kodrat anak yang tumbuh dan berkembang secara bertahap.

 

 

b.)   Prinsip-prinsip bimbingan yang diberikan pada anak, diantaranya:

·         Pendidikan harus didasarkan pada psikologi anak

·         Anak berkembang secara fisik, mental, moral melalui pengalaman

·         Pengalaman-pengalaman harus melalui kesan yang menyenangkan, pengamatan yang hati-hati, pengertian yang jelas dan pengaplikasian belajar dalam aktivitas sehari-hari.

·         Perkembangan belajar melalui hal-hal yang paling mudah yang lebih sulit/kompleks dan dari yang kongkrit ke abstrak, dari pengalaman menuju ke keputusan dan aturan-aturan.

·         Guru harus mempertimbangkan dan respek kepada hal-hal yang disenangi oleh anak. Kesiapan dalam belajar lebih lanjut, kebebasan berekspresi diri dan kebutuhan sosial dan emosional.

·         Disiplin dibutuhkan tetapi harus bersifat membangun bukan untuk menghukum. Bahkan bila anak tertarik dan aktif, disiplin yang terlalu keras menjadi tidak dibutuhkan.

 

c.)    Pestalozzi berpendapat bahwa pendidikan anak perlu memperhatikan 5 konsep dalam mengasuh, membimbing dan mendidik, yaitu:

Ø  Heart, pendidik anak usia dini harus membelajarkan dengan ikhlas dari lubuk hatinya dan bukan berdasarkan paksaan.

Ø  Hand, pendidik harus mempunya keterampilan untuk berkreativitas sehingga stimulasi yang diberikan pada anak sesuai, tepat dan menarik.

Ø  Health, pendidikan harus sehat secara fisik dan rohani karena sosok seorang pendidik akan sangat berpengaruh pada kelangsungan pembelajaran dan kehidupan anak.

Ø  Head, pendidik harus mempunyai wawasan berpikir yangluas sehingga diharapkan wawasan anak yang dididiknyapun  akan semakin bertambah.

Ø  Harmonis, pendidik harus dapat membuat anak aman, nyaman dan menyenangkan selama mengikuti kegiatan belajar.

 

 

d.)   Tujuan pendidikan menurut Pestalozzi

Tujuan pendidikan adalah membimbing anak menjadi orang yang baik dengan jalan mengembangkan potensi-potensi yang ada pada diri anak. Pandangan Pestalozzi banyak dipengaruhi oleh teori yang dikemukakan oleh tokoh pendidikan, diantaranya : Rosseau, yang memfokuskan pandangan kepada lingkungan alam sebagai sarana untuk pembatasan spirit anak; Plato, yang memandang anak sebagai masa elastic dan ekpresif dari factor pembawaan; Comenius, yang memandang bahwa pengalaman sensori anak dapat mewujudkan potensi ke permukaan kesadaran serta Jhon Locke, yang memandang anak sebagai subjek bagi pengaruh-pengaruh lingkungan.

Contoh Implementasi teori AVM dalam pembelajaran anak pada usia dini pada berbagai lembaga pendidikan.

Di Play Group (Usia 2-3 tahun)

         Melalui Konsep Pendengaran (Auditory)

         Melalui Konsep Penglihatan (Visual)

         Konsep Ingatan (Memory)

Di Taman Kanak-kanak (usia 3-6 tahun)

         Melalui Konsep Pendengaran (Auditory)

         Melalui Konsep Penglihatan (Visual)

         Konsep Ingatan (Memory)

Di Sekolah Dasar (Usia 6 – 8 tahun)

         Melalui Konsep Pendengaran (Auditory)

         Melalui Konsep Penglihatan (Visual)

         Konsep Ingatan (Memory)

 

2.2 FREDERICH WILHELM FROEBEL (1782 – 18520)

            Froebel yang bernama lengkap Friendrich Wilheim August Froebel, lahir di Jerman pada tahun 1782 dan wafat pada tahun 1852.Pandangannya tentang anak banyak dipengaruhi oleh Pestalozzi serta para filsuf Yunani.Froebel memandang anak sebagai individu yang pada kodratnya bersifat baik.Sifat yang buruk timbul karena kurangnya pendidikan atau pengertian yang dimiliki oleh anak tersebut.Konsep belajar menurut Froebel lebih efektif melalui bermain dan lebih dititikberatkan pada pembelajaran keterampilan motorik kasar atau halus.Beliaulah yang pertama kali memiliki ide untuk membelajarkan anak di luar rumah.

 

a.)    Tiga prinsip didaktik yang dikemukakan Froebel yaitu:

§  Pengembangan otoaktivitas merupakan prinsip utama. Anak didik harus didorong untuk aktif sehingga dapat melakukan berbagai kegiatan (pekerjaan) yang produktif.

§  Kebebasan atau suasana merdeka. Otoaktivitas anak akan tumbuh dan berkembang jika pada anak diberikan kesempatan dalam suasana bebas sehingga anak mampu berkembang sesuai potensinya masing-masing. Melalui suasana bebas atau merdeka, anak akan memperoleh kesempatan mengembangkan daya fantasi atau daya khayalnya, terutama daya cipta untuk membentuk sesuatu dengan kekuatan fantasi anak.

§  Pengamatan dan peragaan. Kegiatan ini dimaksudkan terutama dalam mengembangkan seluruh indra anak. Prinsip ini selaras dengan apa yang telah dikemukakan.

§   

b.) Konsep pendidikan anak usia dini yang dikembangkan oleh Froebel antara lain:

ü  Kurikulum dan metodologi yang sesuai dengan perkembangan anak. Bermain merupakan metode belajar yang paling efektif untuk anak-anak.Pengetahuan dan konsep yang akan ditanamkan akan efektif diberikan melalui kegiatan main, bukan drill dan instruksi.

ü  Mengamati kegiatan perkembangan anak dan memfasilitasi jika mereka akan belajar sesuatu. Orang tua dan guru berkewajiban menyiapkankebutuhan pertumbuhan dan perkembangan anak, baik alat, kegiatan, maupun konsep pembelajaran. Orang tua dan guru juga dituntut untuk mengamati proses tumbuh kembang anak dalam kegiatan yang difasilitasinya. Anak belajar ketika mereka siap belajar. Kematangan setiap anak untuk belajar, berbeda satu sama lain karena setiap anak itu unik. Proses bermain dan belajarakan bermakna jika anak memang sudah siap untuk melakukannya karena organ-organ pengetahuannya telah matang.

ü  Pentingnya belajar melalui bermain. Bermain merupakan kegiatan yang menyenangkan. Anak dapat mempelajari sebuah konsep atau prilaku jika suasana di sekitarnya dirasa aman, nyaman, dan menyenangkan. Anak akan mudah menyerap makna pembelajaran, ketika kegiatan dilakukan melalui bermain.

            Froebel percaya bahwa situasi pembelajaran bagi anak usia dini haruslah mencerminkan unsur 3F yaitu:

1.      Fridge (perdamaian) dalam pergaulan anak, pendidik dan orang disekitar.

2.      Frevde (kegembiraan ) selama proses pembelajaran.

3.      Frabeit (kemerdekaan ) adanya kebebasan dalam situasi dan kondisi ‘iklim’ pendidikan yang kondusif.

 

 

 

 

 

 

2.3 MARIA MONTESSORI

Maria Montessori hidup sekitar tahun 1870-1952.Ia adalah seorang dokter dan ahli tentang manusia yang berasal Italia. Pemikiran-pemikiran serta metode yang dikembangkannya masih populer di seluruh dunia.Pandangan Montessori tentang anak tidak terlepas dari pengaruh pemikiran ahli yang lain yaitu Rousseau dan Pestalozzi yang menekankanpada pentingnya kondisi lingkungan yang bebas dan penuh kasih agar potensi yang dimiliki anak dapat berkembang secara optimal. Montessori memandang perkembangan anak usia prasekolah/ TK sebagai suatu proses yang berkesinambungan. Ia memahami bahwa pendidikan merupakan aktivitas diri yang mengarah pada pembentukan disiplin pribadi, kemandirian dan pengarahan diri.

a.)    Pandangan Montessori

Beberapa pandangan dan prinsip Montessori dalam mengembangkan pendidikan anak usia dini dapat dicermati dari beberapa falsafah berikut ini:

         Anak usia dini tidak seperti orang dewasa, mereka terus menerus berada dalam keadaan pertumbuhan dan perubahan, dimana pertumbuhannya sangat dipengaruhi oleh lingkungan.

         Anak usia dini senang sekali belajar `selalu ingin tabu dan mencoba’. Tugas orang dewasa adalah mendo¬rong, memberi kesempatan belajar dan membiarkan anak belajar sendiri.

         Pikiran anak yang masih kecil mempunyai kemampuan besar untuk menyerap berbagai pengalaman. Masa yang paling penting adalah masa pada rentang usia sejak lahir sampai umur 6

         Anak usia dini menyerap hampir semua yang dipelajarinya dari lingkungan.

         Anak belajar banyak melalui gerakan-gerakan, Ia membutuhkan kesempatan untuk bergerak, bereksplo¬rasi, belajar melalui alat inderanya.

         Anak melewati masa-masa tertentu dalam perkembangannya dan lebih mudah untuk belajar, yang disebut dengan periode sensitive untuk belajar.

         Semakin banyak kesempatan anak mengirimkan rangsangan-rangsangan sensoris ke otak, maka semakin berkembang kecerdasannya.

         Anak paling baik belajar dalam situasi kebebasan yang disertai disiplin diri.Anak harus bebas bergerak dan memilih kegiatan yang disenanginya didalam kelas dengan disertai disiplin diri.

         Orang dewasa khususnya guru tidak boleh memaksakan anak untuk belajar sesuatu, dan tidak boleh mengganggu apa yang sedang dipelajari anak.

         Anak harus belajar sesuai dengan taraf kematangannya, tanpa paksaan untuk menyesuaikan atau menjadi sama dengan anak lain.

         Anak mengembangkan kepercayaan pada dirinya bila ia berhasil melaksanakan tugas-tugas sederhana.

         Bila anak diberi kesempatan untuk belajar pada saat sudah siap’matang’untuk belajar, dia tidak saja akan dapat meningkatkan kecerdasannya tetapi juga akan merasakan kepuasan, menambah kepercayaan diri dan keinginan untuk belajar lebih banyak.

 

b.) Dasar pendidikan metode pembelajaran montessori menekankan pada tiga hal, yaitu:

1)   Pendidikan sendiri (pedosentris)

Menurut montessori, anak-anak memiliki kemampuan alamiah untuk berkembang sendiri. Amak punya hasrat alami untuk belajar dan bekerja, bersamaan dengan keinginan anak yang kuat untuk mendapat kesenangan.Anak juga memiliki keinginan untuk mandiri.Dalam hal ini, keinginan untuk mandiri tidak muncul atas perintah dari orang dewasa melainkan keinginan tersebut muncul dalam diri anak itu sendiri. Dorongan alamiah akan terpenuhi dengan memfasilitasi anak dengan aktifitas-aktifitas yang penuh kesibukan. Namun dalam kegiatan tersebut anak harus berlatih sendiri tanpa dibantu.

2)   Masa peka

Masa peka adalah masa yang sangat oenting dalam perkembangan seorang anak.Ketika masa peka datang, maka anak harus segera difasilitasi dengan alat-alat permainan yang mendukung aktualisasi potensi yang dimiliki. Guru memiliki kewajiban untuk mengobservasi munculnya masa peka dalam diri anak agar dapat memberikan tindakan yang tepat sesuai dengan kondisi anak.

Adapun Montessori memberikan bantuan periode sensitif atau masa peka dalam sembilan tahapan sebagai berikut:

USIA

PERKEMBANGAN

Lahir - 3 tahun

 

1,5 - 3 tahun

1,5 - 4 tahun

 

2 - 4 tahun

 

2,5 – 6 tahun

3 – 6 tahun

3,5 – 4,5 tahun

 

4 – 4,5 tahun

4,5 – 5,5 tahun

>> masa penyerapan toral (absorbed mind), perkenalan dan  pengalaman panca indera

>> perkembangan bahasa        

>> perkembangan dan koordinasi antara mata dan otot-ototnya

>> perhatian pada benda-benda kecil

>> perkembangan dan penyempurnaan gerakan-gerakan

>> perhatian yang besar pada hal-hal yang nyata

>> mulai menyadari urutan waktu dan ruang

>> penyempurnaan penggunaan panca indera

 

>> peka terhadap pengaruh orang dewasa

>> mulai mencoret-coret

>> indera peraba mulai berkembang

>> Mulai tumbuh minat membaca

 

3)   Kebebasan

Model pembelajaran montessori memberikan kebebasan kepada anak untuk berfikir, berkarya dan menghasilkan sesuatu. Hal ini dikarenakan masa peka tidak dapat diketahui kapan kepastian kemunculannya.Kebebasan ini bertujuan agar anak dapat mengaktualkan potensi anak sebebas-bebasnya. Model pembelajaran montessori memfokuskan ppada pengembangan aspek motorik, sensorik dan bahasa. Penekanan utamanya ditempatkan melalui pengembangan alat-alat indera. Model pembelajaran montessori membebaskan anak untuk bergerak , menyentuh, memanipulasi dan bereksplorasi secara bebas.

Langkah pembelajaran dalam model pembelajaran montessori terdiri dari tiga langkah yaitu:

1) langkah menunjukkan

2) langkah mengenal

3) langkah mengingat.

 

   c.) Prinsip-Prinsip Metode Pembelajaran Montessori

Montessori yang diterapkan dalam berbagai jenis program antara lain:

a.    Menghormati Anak

Menghormati anak merupakan  landasan utama, dimana seorang guru menghormati segala sesuatu yang diinginkan anak. Model pembelajaran montessori menekankan pada rasa saling menghormati antara guru dengan murid dan murid dengan guru. Guru membantu anak untuk membentuk pribadi yang mandiri, taat, berperilaku baik, disiplin, serta bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitar. Peran guru dalam proses pembelajaran montessori adalah sebagai model yang dapat dicontoh ataupun ditiru segala sesuatunya oleh anak. Guru akan menunjukkan rasa hormat kepada anak ketika guru membantu anak dalam melakukan kegiatan. Prinsip awal ini dapat membentuk anak untuk menjadi pribadi yang mampu mengembangkan diri, ketarampilan dan kemampuan dalam pembelajaran yang efektif.

b.    Menyerap Pikiran Anak

Montessori percaya bahwa anak-anak mampu mendidik diri mereka sendiri. Orang dewasa memperoleh pengetahuan dengan menggunakan pemikirannya, namun anak-anak  membangun pengetahuannya melalui pengalaman yang diperoleh secara langsung. Konsep pemikiran Montessori dalam menyerap pemikiran anak yaitu agar seorang guru mampu memahami bahwa anak-anak belajar dari lingkungan.Anak-anak belajar bergantung pada guru, pengalaman dan lingkungan anak.

c.     Periode sensitif

Periode sensitif  merupakan kondisi ketika anak-anak lebih rentan terhadap perilaku tertentu dan dapat belajar keterampilan khusus lebih mudah. Periode sensitif mengacu pada sensibilitas khusus yang mengakuisisi dalam keadaan infantil. Semua anak mengalami periode sensitif yang sama (misalnya periode sensitifuntuk menulis), urutan dan waktu berbeda untuk setiap anak. Salah satu peran guru adalah dengan menggunakan observasi untuk mendeteksi tingkat sensitivitas dan memberikan pengaturan untuk pemenuhan optimal.

d.    Lingkungan yang Siap

Anak-anak belajar melakukan sesuatu dengan baik melalui lingkungan.Anak-anak dapat melakukan hal-hal untuk diri mereka sendiri.Lingkungan siap menjadi bahan pembelajaran dan pengalaman yang tersedia untuk anak-anak dalam format yang teratur. Ruang Kelas Montessori dijelaskan dengab apa yang pendidik anjurkan ketika mereka berbicara tentang pendidikan yang berpusat pada anak dan pembelajaran aktif. Kebebasan adalah karakteristik penting dari lingkungan siap. Sejak anak-anak dalam lingkungan bebas untuk mengeksplorasi bahan yang mereka pilih sendiri, mereka akan menyerap apa yang mereka temukan di sana.

e.    Autoeducation (Jatidiri pendidikan)

Montessori menanamkan konsep bahwa anak-anak mampu mendidik diri mereka sendiri autoeducation (Juga dikenal sebagai diri-pendidikan). Anak-anak  secara aktif terlibat dalam lingkungan yang siap dan memberi  kebebasan harfiah mendidik diri. Guru dalam metode montessori mempersiapkan ruang kelas agar anak mampu mendidik diri mereka sendiri

 

 

BAB III

PENUTUP

 

3.1  Kesimpulan

        Berdasarkan pembahasan diatas terdapat beberapa pendapat para tokoh barat tentang anak usia dini.

        Johann Heinrich Pestalozzi berpendapat bahwa masing-masing tahap pertumbuhan dan perkembangan individu anak usia dini haruslah tercapai dengan baik sebelum berlanjut pada berikutnya. Pandangan dasar dari Pestalozzi yaitu menekankan pada pengamatan alam, menumbuhkan keaktifan raga anak, dan pembelajaran pada anak usia dini harus berjalan secara bertahap.

 

       Menurut Frederich Wilhelm Froebel mengemukakan perdapatt nya yaitu kosep belajar menurut Froebel lebih efektif melalui bermain dan lebih di titik beratkan pada pembelajaraan keteramiplanmotorik kasar atau halus. Adapun prisip didatik yang dikemukakan oleh Froebel :

- pengembangan otoaktivitas merupakan prinsip utama

- kebesan atau sauna merdeka

- pengamatan dan pergaan

 

         Menurut Maria Montessori Montessori Montessori memandang perkembangan anak usia prasekolah/TK sebagai suatu proses yang berkesinambungan. Ia memahami bahwa pendidikan merupakan aktivitas diri yang mengarah pada pembentukan disiplin pribadi, kemandirian dan pengarahan diri. Prinsip-Prinsip Metode Dalam Pembelajaran Montessori diantaranya :

a)      Menghormati anak

b)      Menyerap pikiran anak

c)      Periode sensitif

d)      Lingkungan yang siap

e)      Autoeducation (jatidiri pendidik)

 

3.2. Kritik dan Saran

Demikian makalah ini kami susun dan semoga bermanfaat untukkita.Kritik dan Saran yang membangun kamiharapkan untuk perbaikan penyusunan makalah ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PGTK/197408062001121BADRU_ZAMAN/Bahan_PLPG_TK_Konsep_Dasar_PAUD.pdf

http://pkgpaudjatinangor.blogspot.com/2013/09/pandangan-para-ahli-tentang-paud.html

https://kakcatur.wordpress.com/2017/01/26/rangkuman-teori-tokoh-pendidikan/

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar